Gulir ke bawah untuk membaca
Contoh Gambar di HTML

#
#
Nasional

Alumni S2 Unsika: “Diskusi Publik Tentang HAM Mencuci Otak Mahasiswa yang Hadir”

×

Alumni S2 Unsika: “Diskusi Publik Tentang HAM Mencuci Otak Mahasiswa yang Hadir”

Sebarkan artikel ini

METROMEDIANEWS, KARAWANG – Badan Eksekuf Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang (BEM FH UNSIKA) menyelenggarakan seminar dengan mengangkat tema “Penyadaran Penegakan Hukum Terhadap Hak Asasi Manusia”, yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna FH Unsika, Kamis (6/12) kemarin.

Hadir dalam acara tersebut Beka Ulung Hapsara selaku Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, Dimas Bagus Arya Saputra perwakilan dari Kontras dan Margo Hadi Putra selaku moderator acara.

Yang menarik dalam diskusi publik tersebut yakni dimana Kontras sebelumnya telah membagi beberapa lembar materi kepada peserta yang hadir berisikan materi HAM di mana dikatakan penulis sebagai berikut.

“Dimulai dari tindak pembasmian pengurus, Anggota, Simpatisan organisasi Partai Komunis di Indononesia dan orang-orang Nasionalis pada 1965-1970. Dengan tuduhan memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia yang sah. Suharto yang kala itu belum menjadi presiden mengerahkan kekuatan militer untuk menangkap orang-orang kiri dan Nasionalis, membunuh para Jendral TNI Angkatan Darat, termasuk disini memprovokasi organisasi kemasyarakatan berbasis agama dan politik tertentu untuk ikut melakukan kekerasan dan pembunuhan”.

Point ini lah yang membuat diskusi menjadi riuh di mana salah satu peserta wakil dari Ketua Alumni S2 Unsika melakukan protes keras yang di tujukan kepada nara sumber dari Kontras.

Drs Syafrial Bakri SH, MH adalah wakil dari Ketua Alumni S2 Universitas Singaperbangsa Karawang melakukan protes keras kepada Dimas Bagus Arya Saputra dimana Bakri mempertanyakan apakah materi ini sudah benar atau tidak. Karena menurutnya materi ini telah mencuci otak para peserta yang hadir, dimana peserta adalah para mahasiswa yang belum mengalami peristiwa tersebut. Sehingga bisa menggiring kepahaman para peserta menganggap bahwa Suharto lah dalang dari semua kejadian di kala itu.

“Saya mempertanyakan materi yang dibuat oleh Kontras yang kemudian dibagikan kepada para peserta. Setelah saya pelajari isinya dimana Kontras telah menuduh seseorang yakni Mantan Presiden Republik Indonesia, Suharto telah melakukan pembunuhan terhadap para Jendral tanpa di dasari Hukum. Pengadilan manapun belum pernah mengatakan bahwa Suharto terlibat dalam peristiwa tersebut,” ujar Syafrial di sela diskusi.

Dikatakan Syafrial, seharusnya Kontras tidak memberikan materi seperti ini, karena menurutnya secara tidak langsung bisa mencuci otak mereka (mahasiswa-red) sehingga bisa mempengaruhi pemahaman negatif tentang sejarah Indonesia.

Lusi salah seorang mahasiswi dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Bogor menyampaikan, awalnya dirinya mengikuti pemaparan dari nara sumber yang kemukan oleh Dimas dari Kontras secara seksama. Namun setelah peserta ada yang protes, saya pun sadar bahwa isi yang ada didalam materi mengiring pemikiran bahwa seolah Suharto terlibat dalam peristiwa tersebut.

“Jelas ini menggiring pemikiran kita bahwa seolah olah Suharto terlibat didalam peristiwa tersebut,” katanya.

Sementara itu, Dimas Arya Saputra yang hadir mewakili dari Kontras mengklarifikasi dan menjelaskan, bahwa pihaknya punya data yang jelas.

“Kita berusaha mengelitik menstimulasi nalar mahasiswa terkait suatu peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia lewat selebaran yang kita bagikan, dan kita memberikan pengetahuan baru kepada mereka,” terangnya.

Ia menambahkan, ketika melakukan diskusi publik atau diskusi mahasiswa kita sering sekali memberikan pengetahuan baru tentang HAM, Itu merupakan kajian kita terhadap Hak Asasi Manusia, Dengan pertimbangan dasar itu sehingga semua orang bisa menerima dan juga menerima informasi yang kita berikan.

“Itu adalah pedoman untuk mengetahui HAM secara dasar,” bantahnya.

Penulis: Jun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *