Gulir ke bawah untuk membaca
Contoh Gambar di HTML

Contoh Gambar di HTML

HOME

Menkominfo: Gangguan Petya Lebih Besar Daripada WanaCry Tapi Kita Tidak Usah Panik

×

Menkominfo: Gangguan Petya Lebih Besar Daripada WanaCry Tapi Kita Tidak Usah Panik

Sebarkan artikel ini
JAKARTA, MMN.CO – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyebutkan gangguan yang ditimbulkan ransomware Petya lebih besar karena mengenkripsi perangkat penyimpanan digital atau hard disk, sedangkan ransomwareWannacry hanya mengunci data atau file.

“Kalau dianalogikan seperti hotel, gambarannya seperti ini; Ransomware Wannacry itu mengunci kamar hotel, sehingga kamarnya tidak bisa dibuka, sedangkan ransomware Petya itu, satu hotel itu tidak bisa dibuka,” ujar Menkominfo Rudiantara dalam diskusi Antisipasi Serangan MalwareRansomware Petya, yang berlangsung di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, Jumat (30/06/2017) siang.

“Jadi, dampaknya memang sangat besar karena Petya mengenkripsi hard disk,” tambah dia.

Serangan ransomware Petya di beberapa negara membuat sebagian besar masyarakat di dunia panik. Kepanikan itu wajar, karena serangan malware ini sangat masif. Meski begitu, Rudiantara menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak panik.

Lebih lanjut, mantan komisaris Indosat itu menjelaskan bahwa ransomware Petya ini sebenarnya telah muncul sejak 2016.

“Pada 2016 itu diduga malware ini hanya ’tidur’, tapi kemudian baru-baru ini muncul lagi karena ada yang memainkan, memodifikasi, dan melemparnya ke seluruh dunia,” ungkap Rudiantara kepada metromedianews.co.

Menurut menteri yang kerap disapa Chief RA ini, ransomware Petya dianggap lebih berbahaya dari ransomware Wannacry yang juga pernah menyerang sebelumnya, namun cara penanggulangannya sebenarnya masih sama.

“Ada 4 hal yang penting, pertama gunakan sistem operasi original dan lakuan update berkala. Kedua rajin update antivirus, dan ketiga lakukanbackup data. Terakhir rajin ganti pasword,” jelasnya.

Namun, ia tidak merinci lebih jauh terkait pelaku yang diduga menyebarkan  malware tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Bisyron Wahyudi menuturkan ada persamaan antara ransomwareWannacry dan Petya.

“Mereka itu tool-nya hampir sama, menggunakan eternalblue yang awalnya dipakai oleh US National Security Agency (NSA) atau Lembaga Keamanan Amerika Serikat. Tool-nya NSA ini bocor ke hacker dan beberapa hacker ini menggunakan tool tersebut sebagai virus,” ungkap dia.

Untuk sementara ini berdasarkan pantauan Kominfo, serangan paling banyak di Ukraina, kawasan Eropa Timur, dan Asia Selatan yang dalam hal ini India menjadi negara paling banyak korban Petya. Dia mengaku belum mendapatkan laporan terhadap serangan Petya di Indonesia. (jns/dr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *