Gulir ke bawah untuk membaca
Contoh Gambar di HTML

#
#
Nasional

Pengrajin Sapu Tamiang Sangkir asal Naringgul, Berharap Bantuan dari Pemerintah

×

Pengrajin Sapu Tamiang Sangkir asal Naringgul, Berharap Bantuan dari Pemerintah

Sebarkan artikel ini

METROMEDIANEWS.CO – Kerajinan sapu tamiang sangkir sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat di wilayah Cianjur Selatan dan Kabupaten Bandung. Sapu yang bahan bakunya dari bambu tamiang, saat ini sedang naik daun. Selain harganya murah meriah, juga ramah lingkungan dan mudah untuk di pergunakan.

Hingga saat ini pesanan sapu tamiang sangkir kian melonjak dari luar kebupaten. Namun sangat disayangkan karena terkendala modal dan biaya, pesanan tidak dapat dipenuhi.

Rasidah (21) pengrajin sapu tamiang sangkir asal Naringgul, Cianjur Selatan, mengatakan, bahwa dirinya bersama pengerajin lainya berharap bantuan modal dari Pemerintah Daerah ataupun Pusat.

“Sementara ini, modal para pengrajin dapat pinjam dari Bank BRI, itu pun cukup sulit dalam proses peminjamannya,” ujar Rasidah kepada MMN, beberapa waktu lalu.

Harga sapu bervariasi, tergantung dari besar kecilnya batangan sapu, dari Rp 20 Ribu sampai Rp25 ribu perbatang.

“Padahal pesanan dari dalam dan luar daerah untuk saat ini meningkat drastis. Karena kekurangan modal untuk beli bahannya terpaksa pesanan tidak terpenuhi sehinga kami buatkan seadanya saja,” katanya.

Hal sama dikatakan salah satu ketua kelompok pengrajin sapu tamiang sangkir, Herman (28), bahwa dirinya bersama warga lainnya yang bergelut dibidang pengrajin kayu sudah hampir puluhan tahun, hampir satu kampung Pasagi rata rata penduduknya usahanya bergelut dibidang pengerajin sapu tamiang sangkir,

“Sudah hampir puluhan tahun dan turun temurun keluarga kami bergelut sebagai pengrajin sapu tamiang sangkir. Sampai saat ini belum pernah mendapatkan bantuan, baik itu modal atau penyuluhan bimbingan,” ucapnya.

Dalam 1 hari para pekerja dikelompok usaha bisa menghasilkan hingga 400 buah sapu dan saat ini ada sekitar 20 orang pekerja yang rata rata ibu ibu.

“Untuk bahan bakunya kita beli dari warga setempat dan ada juga yang beli langsung keluar daerah yakni dari di Jawa Tengah. Kalau bahan baku dari kampung 6 bulan sekali, jadi tidak seperti di Jawa Tengah yang setiap hari ada. Untuk harga bahan baku per kilo gramnya mencapai Rp 21 ribu,” terangnya.

Untuk penjualnya sendiri, Herman menjelaskan, biasanya langsung dibawa ke Kabupaten Bandung dan ada juga yang langsung datang dan pesan dengan harga bervariasi.

“Rata rata harga tidak jauh diangka Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per batang sapu. Harapan kami semoga pemerintah bisa membantu modal. Dengan adanya tempat usaha didesa maka bisa mengurangi pengangguran dan tentunya bisa membantu pemerintah dalam hal lapangan kerja,” tandasnya.

Penulis: Jay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *