Gulir ke bawah untuk membaca
Contoh Gambar di HTML

#
#
MegapolitanNasional

Perjuangan Sang Pemburu Berita, Hingga Jatuh Bangun Dalam Kubangan Lumpur

×

Perjuangan Sang Pemburu Berita, Hingga Jatuh Bangun Dalam Kubangan Lumpur

Sebarkan artikel ini
19 Pengunjung

METROMEDIANEWS.CO – Berbekal peralatan tempur jurnalis, Kamis 1 Februari 2018, Jay ditemani rekan seprofesi menuju sebuah Desa yang berada di ujung Selatan Cianjur dalam rangka peliputan.

Sekitar 1 jam perjalanan menuju Kampung Pasir Tarisi, Kedusunan Ujung Jaya, Desa Malati, Naringgul, Cianjur Selatan, Jay dan rekan dihadapkan kondisi jalan yang belum terjamah oleh pembangunan pemerintah.

Jalan yang berliku, terjal dan bebatuan besar membuat perjalanan kali ini penuh dengan tantangan.

Diluar dugaan siang hari cuaca berubah turun hujan hingga menambah kondisi jalan licin dan berlumpur. Kondisi jalan yang menanjak dan turunan dengan bentangan kiri kanan jurang yang sangat curam, sehingga perjalanan penuh dengan resiko dan pertaruhan nyawa.

Selama perjalanan menuju Kampung Pasir Tarisi, sudah tidak terhitung berapa kali Jay dan rekannya terjatuh dari motor dalam kubangan lumpur akibat jalan yang licin.

Sesampai di Dusun Pasir Tarisi kedatangan Jay dan rekanya disambut hangat oleh warga setempat dan tokoh masyarakat.

Tak terbayangkan, bagaimana nasib warga setempat khususnya anak-anak ketika melakukan aktifitas dengan kondisi jalan yang penuh dengan resiko akan keselamatan mereka.

Ironisnya, sudah kesekian kalinya Kepala Desa berganti namun belum ada perubahan signifikan mengenai infrastruktur dan pembangunan di Kampung tersebut.

Dikatakan salah seorang warga, bahwa dirinya dan warga lainnya berharap kepada pemerintah untuk dapat melakukan pemerataan pembangunan.

“Walau kehidupan kami di perkampungan, kami minta Keadilan sebagai Warga Negara Indonesia, khususnya Desa Malati, untuk pemerataan pembangunan,” ujarnya.

Lebih dari itu dalam kesempatan itu Jay dan rekannya dibawa ke salah satu perkampungan yang keberadaannya paling pojok dari Pusat Kota yakni Kampung Cihandeleum.

Hal yang sama terlihat jalan di Kampung itu hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda 2, dengan kondisi jalan yang berlumpur dan licin yang belum pernah terjamah oleh perbaikan atau pun pengerasaan.

Saat ini warga hanya bisa berharap kepada pemerintah agar jalan ke Kampungnya dapat dilakukan pengerasan seperti jalan dikampung lainnya.

“Semoga saja melalui Bapak Wartawan ini keinginan dan aspirasi kita warga Kampung Cihandelem dapat didengar oleh Pemerintah Pusat, Daerah, Provinsi dan Anggota Dewan selaku wakil rakyat,” ungkap Ade salah seorang tokoh masyarakat.

Sementara itu Jay dalam rangka tugas jurnalisnya merasa prihatin atas kondisi jalan dan perkembangan pembangunan Kampung Pasir Tarisi dan Kampung Cihandelem yang masih jauh dari harapan warga.

“Kedatangan kami untuk melihat dan mencatat sejauh mana perkembangan pembangunan di Kampung tersebut, dan memang kenyataannya kondisinya sangat memprihatinkan,” terang Jay.

Jay berharap dengan terangkatnya pemberitaan dan kondisi Kampung Pasir Tarisi dan Kampung Cihandelem yang masih sangat tertinggal menjadi perhatian serius untuk pemerintah agar dapat memberikan perhatian serius untuk melakukan pembangunan infrastruktur agar lebih baik sesuai harapan warga masyarakat.

Diketahui dalam Undang-Undang
sesuai Pasal 24 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, penyelenggara wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Pasal 273: Setiap penyelenggara jalan yang tidak dengan segera dan patut memperbaiki Jalan yang rusak yang mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) sehingga menimbulkan korban luka ringan dan/ atau kerusakan Kendaraan dan / atau barang dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan luka berat, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah).

Penyelenggara Jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak dan belum diperbaiki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).

(Dedy R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *