Dari situlah, kata Wina, muncul lagu Ceurik Oma (Tangis Oma) yang mengisahkan bagaimana Oma menangis sambil melipat pakaian, bergegas pulang kembali ke daerah asalnya di Cianjur.
“Hanya saja takdir orang siapa tahu, justru setelah berada di Cianjur perempuan cantik ini ditaksir seorang Jaksa yang kemudian menjadi Bupati Serang. Sementara putra Bupati Garut itu tidak pernah menjadi Bupati, bahkan justru sempat menjadi bawahan suami Oma,” imbuh perempuan yang pernah mengikuti Jakarta-Berlin Art Festival 2013 itu.
“Sebagai penghormatan pada Oma, lagu yang tadinya berjudul Ceurik Oma kemudian diganti menjadi Jemplang Serang dan masuk dalam Papantunan,” sambung Wina.
Lokatmala Foundation atau Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia di Cianjur dikenal sebagai organisasi yang bergerak dibidang kebudayaan, seni pertunjukan, kemanusiaan, pendidikan dan pendampingan pembangunan sosial budaya. Lokatmala bahkan menjadi yang terdepan dalam gerakan pemajuan kebudayaan di daerah dengan memfokuskan pada pelestarian dan pemajuan kebudayaan di wilayah terpencil dan termarjinalkani terutama di kampung dan desa adat.
Kampung Adat Miduana di Desa Balegede Kecamatan Naringgul adalah salah satu kampung adat yang didampinginya. Karya terbarunya dibidang pertunjukan ‘Dari Pancaniti ke Ceurik Oma’ diharapkan membuat kebaruan seni pertunjukan musikal dengan tanpa menghilangkan nilai lokal.
Sejumlah nama keren terlibat dalam pertunjukan musikal ‘Dari Pancaniti ke Ceurik Oma’ ini antara lain Produser Wina Rezky Agustina, Sutradara Heliana Sinaga, Penulis Naskah Faisal Syahreza, Komposer Sofyan Triyana, Konsultan Artistik Iskandar Loedin dan Penata Artistik M. Ilham Fauzy.















