“Kedua mengunjungi pengrajin batik dan membeli produknya. Ketiga melalui belajar membatik sehingga wujud rasa cinta kepada batik makin kuat,” ungkap Teh Rita.
Sehelai kain kain batik yang dipakai, sebut Teh Rita, sejatinya telah melalui proses panjang termasuk mengandung makna filosofis yang mengangkat kekayaan budaya suatu daerah.
“Cara lain untuk membuktikan bahwa kita cinta terhadap batik adalah dengan memanfaatkan medsos. Kita bisa berbagi cerita tentang batik yang kita pakai lalu mempromosikannya ke berbagai belahan dunia melalui jejaring yang kita miliki,” ujarnya.
Terakhir, kata Teh Rita, yang tidak boleh dilupakan adalah melibatkan anak muda, supaya batik tidak terkesan jadul.
“Anak muda itu biasanya kreatif dan inovatif, karena pada dasarnya batik adalah perpaduan antara tradisi dan inovasi yang saling melengkapi,” sambungnya.
Terpisah Ketua DPD Partai Golkar Purwakarta, Hj. Anne Ratna Mustika, menjelaskan, bahwa Purwakarta sudah memiliki ratusan motif batik yang diangkati dari kekayaan tradisi dan budaya setempat.
“Salah satunya dari alam ada motif Jatiluhur, motif Situ Cibuleud, dari kuliner ada motif Maranggi, dari flora ada motif Bambu dan motif Bunga Melati dan lain- lain,” kata mantan Bupati Purwakarta yang dalam Pemilu 2024 menjadi calon anggota DPRD Provinsi Jawa Barat tersebut.
(Red)













