Salah satu masukan yang diterima dari surat-surat tersebut, umpamanya, keluhan tentang waktu istirahat yang kadang digunakan untuk pembelajaran. “Mereka merasa tidak nyaman, karena waktu istirahatnya jadi singkat,” imbuhnya.
Pada lomba cepat tepat, para siswa juga ditanya tentang tokoh-tokoh perempuan, sejarah dan berbagai hal lainnya. Sementara untuk kelas rendah, siswa dibimbing guru untuk membaca bersama.
“Hari ini tulisan yang mereka hasilkan banyak yang bagus dan panjang-panjang, terutama tulisan tentang cerita hari ini. Saya berjanji pada mereka untuk membukukannya,” terangnya.
Para pemenang lomba menulis dan juga cepat tepat, puisi dan menulis surat mendapat hadiah dari sekolah. “Hadiahnya semacam penyematan bros, sederhana tapi penting untuk menyemangati mereka,” ujar salah satu fasilitator program pendidikan INOVASI ini.
Sebelumnya, sekolah ini sudah melakukan program membaca 15 menit sebelum pelajaran tiap hari. Namun program tersebut kadang tidak berjalan dengan mulus. “Momen hari ibu kita Kartini kita jadikan sebagai momen menandaskan kembali bahwa sekolah ini adalah sekolah literasi. Kita akan adakan kagiatan seperti ini setiap Sabtu selama satu jam dan 15 menit membaca setiap hari selain hari Senin dan Sabtu,” pungkasnya.
(Red)
















