SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
BeritaDaerahGarutJawa Barat

Portal Penghalang Truk di Jalan Desa Tanjungjaya Hambat Akses Ekonomi Masyarakat

56
×

Portal Penghalang Truk di Jalan Desa Tanjungjaya Hambat Akses Ekonomi Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Metromedianews.co – Garut, Warga Desa Tanjungjaya, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, tengah dibuat resah dengan kebijakan Pemerintah Desa dan Lembaga Desa (BPD) yang membangun portal penghalang di Kampung Citugu RW 12. Portal tersebut melarang masuknya truk double ke wilayah desa, dengan alasan jalan rusak akibat lalu lintas kendaraan besar.

Namun, bagi masyarakat, kebijakan ini justru dianggap sebagai penghambat akses ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil dan pengangkutan hasil pertanian atau barang dagangan. Beberapa warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keluhannya dengan nada kecewa.

“Betah jadi pamaréntah jeng BPD mh nyieun aturan ku sorangan, teu mikirkeun masyarakat nu keur usaha néangan biaya keur anak pamajikan. Cukup alesanana téh jalan ruksak ku mobil double, makana jalan diportal supaya ulah asup. Tapi teu mikiran kabutuhan jeung kapentingan masyarakat leutik,” ucap seorang warga dengan nada geram.

Warga menilai, jika kerusakan jalan dijadikan satu-satunya dalih, maka solusi yang lebih bijak seharusnya adalah perbaikan jalan, bukan menutup akses mobil truk besar yang selama ini menjadi sarana penting untuk menunjang ekonomi warga.

Lebih dari itu, penempatan portal pun dianggap tidak adil dan cenderung diskriminatif. Portal dibangun bukan di awal akses jalan desa, melainkan di bagian ¾ jalan masuk, yang menyebabkan ketimpangan antar wilayah dalam desa itu sendiri. Sejumlah warga menyebut bahwa penempatan ini memunculkan kesan keberpihakan dari pemerintah desa terhadap wilayah tertentu saja.

“Kalau memang niatnya melindungi jalan, kenapa bukan dari awal akses masuk dipasang portal? Ini malah di tengah jalan, jadi terasa pilih kasih. Kami masyarakat yang terkena dampaknya jelas dirugikan,” tutur warga lainnya.

Dampak dari portal ini bukan sekadar urusan kendaraan besar tidak bisa masuk. Lebih jauh, itu menyangkut mata pencaharian, distribusi hasil tani, dan kelancaran logistik masyarakat desa yang selama ini bergantung pada transportasi truk double. Tak sedikit pedagang dan petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk bongkar muat barang karena kendaraan tidak bisa masuk langsung ke tempat tujuan.