HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
Peristiwa

Penjualan Kalender ke ASN Pemkot Tangerang Disorot, Diduga Bermodus Ongkos Cetak

391
×

Penjualan Kalender ke ASN Pemkot Tangerang Disorot, Diduga Bermodus Ongkos Cetak

Sebarkan artikel ini

Kota Tangerang – Praktik penjualan kalender kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, khususnya di kalangan guru, menuai sorotan tajam. Kegiatan tersebut diduga sebagai bentuk pungutan liar (pungli) yang dibungkus dengan dalih ongkos cetak. Isu ini muncul karena beberapa guru mengungkapkan merasa terbebani oleh permintaan tersebut.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Sejumlah guru di beberapa sekolah mengaku diminta untuk membeli kalender dengan alasan “ongkos cetak” sekitar Rp40.000 per kalender. Penjualan itu disebut-sebut bersifat “imbauan”, namun dalam praktiknya dinilai mengarah pada kewajiban. Kalender tersebut diklaim sebagai bagian dari program internal, dengan alasan untuk menutup biaya produksi dan distribusi.

“Sebenarnya disebutnya tidak wajib, tapi ada tekanan moral. Kalau tidak membeli, takut dianggap tidak mendukung,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.

Narasumber mengatakan, pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) di tiap kecamatan yang mengkordinir terkait penyaluran juga biaya kalender tersebut.

“Kabarnya pembelian kalender atas arahan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten,” ungkapnya.

Kondisi ini memicu polemik di kalangan ASN. Beberapa pihak menilai, apabila benar ada unsur kewajiban terselubung, maka hal tersebut dapat dikategorikan sebagai pungutan liar. Terlebih jika tidak disertai transparansi penggunaan dana maupun dasar hukum yang jelas.

Pengamat kebijakan publik, Fajar Herwindo, menegaskan segala bentuk pungutan di lingkungan pemerintahan harus memiliki dasar regulasi dan dilakukan secara transparan.

Metro Media News Peduli 2026

Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.

Lihat Proposal & Informasi Lengkap »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *