CIANJUR ,MMN.CO – Menjelang bulan suci ramadhan kali ini harga gula Aren deraktis menurun, membuat para petani gula Aren di kecamatan Naringgul menjerit, hal ini disebabkan biaya produksi sama dengan harga jual, secara analisa keuntungan produksi gula Aren kali ini bagi petani gula Aren kecamatan Naringgul adalah rugi.
Harga jual dari petani ke para tengkulak/bandar hanya kisaran mencapai Rp. 8.000,- sampai Rp. 9.000,- itupun dilihat dari kwalitas gulanya, harga tengkulak/bandar menjual ke pemasaraan di Bandung mencapai sekisar Rp. 10.500,-.
Dikatakan Iming (45) salah seorang petani gula Aren asal desa Naringgul menyampaikan kesedihannya kepada wartawan MMN.CO. Sementara harga-harga poko kebutuhan harganya pada mahal. “Kalau harga gula Aren terus terusan merosot lama-lama para petani alih propesi, belum lagi harga beli bahan bakar kayu satu ikatnya mencapi Rp. 30.000,-, kalau diitung-itung yah pas-pasan buat kebutuhan keluarga dan makan. “Ucapnya.
Ucapan yang sama dikatakan salah satu bandar atau tengkulak gula Aren asal Sukabakti Didin (55) Harga beli dari Bandung untuk gula Aren hanya mencapi Rp. 10.500,- serta harganya tidak menentu kadang naik kadang turun.” Sebenarnya kalau diitung-itung penjualan sebesar itu pas-pasan kita beli ada yang harganya Rp. 9.000,- ada juga yang Rp. 8.000,- pembelian gula menyesuaikan kuwalitas gulanya, kan gula aren itu ada yang bagus ada juga yang jelek, Harapan kami mudah-mudahan harga gula Aren bisa normal kembali seperti biasanya yaitu mencapai Rp. 13.000,- perkilo.” Ujarnya.
Hasil pantuan MMN.CO masyarakat di Kecamatan Naringgul sebagian besar petani gula Aren mereka sehari-harinya penyadap gula Aren dan disetiap pemilik kebun pasti ada pohon arennya. (Jay.)















