SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
HOME

Antara Jabatan dan Jiwa Egoisme Seorang Pejabat Publik

152
×

Antara Jabatan dan Jiwa Egoisme Seorang Pejabat Publik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Jay Sugiarto
Pemimpin Redaksi MMN

Kehidupan menjadi seorang Pejabat Publik notabene penuh dengan resiko dan tantangan. Serta kebijakan-kebijakan yang di emban oleh seorang Pejabat Publik mulai dari tingkat bawah sampai tingkat atas seperti RT/RW, Kepala Desa, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur, Anggota Dewan, hingga Presiden dituntut untuk dapat menahan diri (menjaga temperamen-red).

Oleh karena itu seorang Pejabat Publik harus kuat dan tahan banting. Karena harus di ingat dan disadari, bahwa Pejabat Publik itu Abdi Masyarakat yang dibiayai sepenuhnya oleh pajak rakyat dan uang rakyat.

Oleh karenanya wajar apabila masyarakat mengkritik terkait kinerja pejabat publik tersebut. Artinya ada salah satu kebijakan yang diputuskan dan diambil tidak sesuai atau sejalan dengan kebutuhan Publik. Dalam hal ini bisa juga dimaknai warga masyarakat itu sayang dan perduli.

Pro Kontra dalam kepemimpinan seorang Pejabat Publik hal biasa dalam demokrasi, untuk melakukan kontrol politik dan merupakan hak setiap warga negara, jika ada kebijakan pemimpin yang menimbulkan reaksi massa.

Artinya, ada kebijakan yang tidak sehaluan dengan warga masyarakatnya. Oleh karena itu jadilah pemimpin yang membela kepentingan rakyatnya, jangan temperatur ketika dikritik, apa lagi sampai mudah tersinggung. “Intropeksilah diri kita sendiri, ada apa? Itu pertanyaannya.

Pepatah orang tua mengatakan, sebelum memimpin banyak orang, pimpin dulu rumah tangga kita. Apa sudah pantas dan siap menjadi Imam dalam rumah tangga, atau masih belum bisa.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *