SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
CianjurHOME

Perjuangan Siswa di Kadupandak, Setiap Hari Sebrangi Sungai Menuju Sekolah

250
×

Perjuangan Siswa di Kadupandak, Setiap Hari Sebrangi Sungai Menuju Sekolah

Sebarkan artikel ini

MMN.co, Cianjur – Sungguh miris anak anak sekolah di desa Neglasari, kecamatan Kadupandak, Cianjur Selatan, Jawa Barat saat hendak berangkat sekolah yang berada di desa Sukamahi, kecamatan Cijati setiap harinya harus menantang nyawa menyebrangi sungai kali Cibuni yang airnya cukup deras dengan cara naik rakit yang terbuat dari bambu.

Diketahui siswa dan siswi yang menyebrangi kali Cibuni menggunakan rakit diantaranya siswa SMP, SMA dan SMK. Ironisnya sudah hampir puluhan tahun belum ada bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi juga pusat.

Maesah salah seorang siswi MA Bojong Jati mengatakan, ia bersama adik siswa/siswi SMP dan yang lainnya setiap mau berangkat ke sekolah lewat kali Cibuni dengan cara naik rakit.

“Kalau soal takut sudah pastinya takut Pak, tapi kan harus gimana lagi soalnya ini jalan satu satunya yang lebih dekat menuju ke sekolah. Tidak ada jalan lain hanya lewat sini dengan cara naik rakit,” katanya saat ditemui dilokasi rakit kali Cibuni, Kamis (18/3/2022).

Maesah berharap ingin adanya jembatan gantung yang layak dan bisa dilewati motor dan pejalan kaki.

“Kalu sudah ada jembatan mungkin saya dan teman teman lainnya bisa nyaman dan mudah apabila mau menuju ke sekolah engak harus naik rakit terus dengan bayar Rp2 ribu sekali nyebrang,” tukasnya.

Hal yang sama dikatakan Sahuri (40), dirinya menjadi tukang pengayuh rakit sudah hampir 5 bulan lamanya.

“Semenjak jembatan gantung putus sekarang banyak warga dan anak anak sekolah melewati jalan lintasan ini baik yang dari desa Sukamahi dan desa Neglasari. Kalau untuk tarif sekali nyebrang seridhonya saja kadang ada yang ngasih Rp2 ribu kadang ada yang ngasih Rp5 ribu kalau yang bawa kendaraan roda dua, jadi kalau untuk tarif nya saya tidak mematok,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *