SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
CianjurHOME

Miris 13 Siswa Didua Kampung di Naringgul Melewati Jembatan Gantung Bambu Kali Cikondang

265
×

Miris 13 Siswa Didua Kampung di Naringgul Melewati Jembatan Gantung Bambu Kali Cikondang

Sebarkan artikel ini

MMN.co, Cianjur – Miris 13 anak sekolah dasar (SD) yang ada di kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan, Jawa Barat setiap harinya harus menyebrangi jembatan gantung yang terbuat dari bambu yang membentang di kali Cikondang dengan panjang jembatan 15 meter dan kedalaman 7 meter.

Diketahui siswa siswi tersebut berasal dari Kampung Tisuk dan Rancasusuh RT 03/02, desa Wangunjaya, Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan, Jawa Barat. Mereka setiap harinya pergi ke sekolah Datarmuncang harus memakan waktu setengah jam perjalanan dengan jarak tempuh 2 kilometer.

Aep Sumpena (50) salah seorang warga Rancasusuh mengatakan, setiap harinya anak anak sekolah harus menyebrangi jembatan gantung yang terbuat dari bambu.

“Sebenarnya bukan hanya anak anak sekolah, wargapun juga saat akan menjual hasil bumi melewati jembatan gantung bambu yang menghubungkan desa Wangunjaya dan Malati,” katanya kepada MMN.co, Rabu (19/1/2022).

Aep berharap, dirinya selaku warga masyarakat yang ada dipelosok ingin adanya bantuan dari pemerintah baik tingkat desa, kabupaten, provinsi dan pusat untuk segera membangun jembatan permanen.

“Kasihan anak anak sekolah dan warga masyarakat setiap harinya harus menantang maut, apalagi kalau musim hujan tiba air kali Cikondang naik sehingga menyebrangi jembatan sangat berbahaya,” ucapnya.

Sementara itu Ceceng Rustiawan selaku Kepala desa Malati menjelaskan, terkait jembatan gantung yang terbuat dari bambu yang berada di kali Cikondang itu masuk perbatasan desa Wangunjaya dan Malati.

“Karena kampung Rancasusuh dan Tisuk masuk wilayah desa Wangunjaya kebijakannya ada di Pemerintah Desa (Pemdes) Wangunjaya, hanya sekolah SD nya yang posisinya berada diwilayah desa Malati,” ujar Kepala desa kepada MMN.co, saat ditemui dikantornya, Rabu (19/1/2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *