Permintaan Arang Meningkat Jelang Hari Raya
PEMALANG – Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas pembuatan arang kayu di sejumlah wilayah Kabupaten Pemalang mulai meningkat. Permintaan pasar yang melonjak membuat para perajin arang tradisional kebanjiran pesanan, terutama dari pelaku usaha kuliner yang membutuhkan bahan bakar untuk berbagai olahan bakaran seperti sate, ayam bakar, hingga kambing guling.
Salah satu perajin arang kayu yang merasakan peningkatan permintaan tersebut adalah Tasripin (65), warga Kampung Mengoneng, Kelurahan Bojongbata, Kabupaten Pemalang. Pria yang akrab disapa Ipin itu mengaku dalam beberapa pekan terakhir pesanan arang terus berdatangan, bahkan lebih ramai dibanding hari-hari biasa.
Di belakang rumah sederhananya, Tasripin masih mempertahankan cara tradisional dalam memproduksi arang kayu. Tumpukan kayu bekas tebangan terlihat disusun rapi sebelum dimasukkan ke tempat pembakaran. Asap tipis yang keluar dari tungku pembakaran menjadi tanda proses pembuatan arang tengah berlangsung.
Tasripin menuturkan, usaha yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun itu menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Meski tidak memiliki pekerja tetap dan belum termasuk industri rumahan berskala besar, usaha arang kayu miliknya mampu menopang kehidupan enam orang anaknya.
“Menjelang Iduladha ini pesanan meningkat. Sekali pembakaran kayu bisa menghasilkan 2 hingga 3 kuintal arang. Biasanya saya jual Rp120 ribu per karung besar isi 20 kilogram,” ujar Tasripin saat ditemui di lokasi pembakaran arang, Senin (18/5).
Gunakan Kayu Keras Berkualitas
Menurut Tasripin, proses pembuatan arang tidak bisa dilakukan secara instan. Kayu harus dipilih terlebih dahulu sebelum dibakar secara perlahan selama beberapa hari hingga menghasilkan arang berkualitas baik. Ia mengaku lebih sering menggunakan kayu keras seperti kayu mangga, jambu, nangka, dan pete karena menghasilkan bara api yang tahan lama.















