Menurut Kang Ace, masalah yang masih dihadapi Indonesia saat ini stunting. Yaitu, gagal tumbuh kembang anak secara sempurna akibat kekurangan gizi dan nutrisi kronis. Anak yang terkena stunting memiliki fisik tidak sempurna dan IQ rendah.
Sehingga, anak tidak bisa menerima pengetahuan dan ilmu yang mungkin nanti masa depannya suram. “Karena itu, ibu-ibu hamil, menyusui, dan balita, harus dipastikan mendapatkan makanan bergizi. Tidak boleh lagi, ibu-ibu yang hamil lalu melahirkan anak stunting,” tutur dia.
“Tidak boleh lagi di Sindangkerta, Gununghalu, Rongga, ada anak yang tumbuh kembangnya tidak sempurna gara-gara kekurangan gizi. Terutama harus dihindari makanan yang tidak bergizi,” ucap Ketua DPD Partai Golkar Jabar ini.
Komponen kedua PKH, ujar wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) Jabar 2 Kabupaten Bandung-KBB ini, adalah bantuan pendidikan, SD, SMP, dan SMA, serta KIP Kuliah. Jadi, gunakan dana PKH untuk kebutuhan pendidikan sebagaimana mestinya.
“Beli tas, buku, seragam. Saya tidak ingin di kecamatan Rongga, Gununghalu, dan Sindangkerta, ada anak Indonesia yang seharusnya sekolah, tetapi putus sekolahnya. Saya tidak ingin di Indonesia ini buta huruf karena tidak sekolah,” ujar dia.
Ketiga, komponen lansia. Tidak boleh ada lansia, orang tua kita hidup telantar, apalagi kekurangan makanan. Keempat, komponen disabilitas. PKH diberikan untuk lansia dan disabilitas guna memastikan kebutuhan mereka terpenuhi dan hidup secara normal dan terlayani.
“Indonesia tidak akan maju jika, anak-anaknya masih stunting, kekurangan gizi, tidak memiliki kemampuan belajar yang baik. Karena itu, program PKH sengaja dianggarkan oleh Komisi VIII DPR untuk mengatasi masalah stunting, kesehatan, pendidikan, agar kesejahteraan masyarakat meningkat,” tutur Kang Ace.















