“Selain korban jiwa, gempa tersebut juga mengakibatkan kerugian di berbagai sektor salah satunya adalah sektor pendidikan. Dimana terdapat 665 satuan pendidikan terdampak yang terdiri dari 2.393 ruang kelas mengalami rusak parah sehingga proses belajar mengajar menjadi terganggu,” sambung Dita.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Dalam acara yang dipandu Penggiat Budaya Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek RI, Dika Dzikriawan dan Seniman Muda Cianjur, Rafi Taufik, Dita memaparkan, dari sekian persoalan pasca gempa Cianjur pemberian perlindungan dan pendampingan terhadap anak-anak yang menjadi korban bencana alam adalah hal yang patut menjadi perhatian bersama.
“Karena, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terkena masalah psikologis pasca gempa. Salah satu bentuk perlindungan itu antara lain melalui dukungan Psikososial Anak,” sebutnya.
Dukungan Psikososial pada anak ini sudah sepatutnya dilakukan untuk mengurangi perasaan trauma serta memberikan ketenangan dan meningkatkan toleransi diantara korban.
“Pemenuhan kebutuhan dasar dan khusus anak juga harus meliputi kebutuhan pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, layanan kesehatan, belajar dan rekreasi, jaminan keamanan, serta persamaan perlakuan,” ujar Dita.
Pantauan di lapangan para siswa selain diajak bermain, menari dan menyanyi bersama juga diajak berdoa dan mengafirmasi harapan-harapan dan cita-cita mereka melalui doa dan dzikir yang disesuaikan dengan usia mereka.
Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa kesenian khas Cianjur dan cara pembuatannya, seperti Rengkenek Cianjur dan permainan tradisional yang bahan bakunya dari bambu.















