Kerajinan tangan anyaman jingko masuk produk unggulan UMKM desa Malati yang nantinya akan dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk dipasarkan baik itu lokal dan nasional.
“Mudah-mudahan ditetapkannya kampung Ciguha menjadi kampung kerajinan sehingga bisa menarik wisatawan berkunjung ke desa Malati baik dari dalam dan luar daerah atau wisatawan asing untuk membeli produk kerajinan tangan anyaman jingko dan lainnya,” terangnya.
Untuk saat ini harga jual kerajinan tangan anyaman masih stabil dan masih bervariatif. Untuk harga satuannya produk kerajinan tangan anyaman bambu ini bermacam-macam. Jingko dibandrol Rp30 ribu, Aseupan Rp10 ribu, Hiid (kipas angin manual) Rp10 ribu, Ayakan Rp25 ribu dan untuk Nyriu Rp25 ribu sehingga harganya relatif terjangkau baik untuk kalangan bawah dan atas.
“Kami berharap setelah dibukanya kampung Ciguha menjadi kampung kerajinan tangan anyaman semoga menjadi perhatian khusus dari pemerintah baik kabupaten, povinsi dan pusat.
“Ini merupakan aset untuk pemerintah daerah khususnya kabupaten Cianjur dan akan meningkatkan sumber perekonomian warga desa kami,” pungkasnya.
(Jay)















