Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, menjelaskan bahwa peletakan bata plastik daur ulang pertama tersebut membawa misi lingkungan yang kuat. Menurutnya, proyek ini menjadi bukti bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomis dapat diubah menjadi material bangunan yang bermanfaat.
Fifi mengungkapkan bahwa gedung baru SDN 3 Sukanegla memanfaatkan material hasil daur ulang sampah plastik residu, yakni jenis sampah yang umumnya menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena sulit diolah menggunakan metode daur ulang konvensional.
Tidak hanya digunakan sebagai panel dinding pengganti bata konvensional, material daur ulang tersebut juga dimanfaatkan untuk plafon bangunan serta sistem perpipaan air terpadu yang menjadi bagian dari konstruksi sekolah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah residu kini dapat menjadi bagian dari solusi. Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghadirkan infrastruktur serta fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Fifi Pangestu.
Melalui program ini, SDN 3 Sukanegla diharapkan menjadi contoh penerapan pembangunan sekolah yang berwawasan lingkungan dan mampu menginspirasi berbagai pihak untuk mengembangkan inovasi serupa di sektor pendidikan maupun pembangunan daerah.
(Diskominfo Garut/Red/Rudi)















