PEMALANG – Rencana Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, untuk menggelar pementasan wayang kulit secara rutin sebanyak dua kali dalam setahun, memantik secercah harapan besar bagi para pelaku seni dan budaya.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Komitmen legislator pusat asal Daerah Pemilihan Jawa Tengah X (Pemalang, Pekalongan, Batang, dan Kota Pekalongan) ini dinilai menjadi Oase di tengah gempuran modernisasi yang kerap mengancam eksistensi kesenian tradisional.
Bagi para seniman lokal, mulai dari dalang, penabuh gamelan (niyaga), hingga sinden, pementasan rutin ini bukan sekadar soal hiburan, akan tetapi merupakan napas panjang bagi kelangsungan dapur mereka.
Selama ini, sepinya tanggapan atau job pementasan sering kali membuat para pekerja seni harus banting tulang mencari profesi sampingan.
Dukungan nyata dari legislator yang akrab disapa RB tersebut seolah menjadi panggung yang selama ini dinanti. Saat dikonfirmasi, politisi Fraksi PKS ini secara konsisten menjadikan pagelaran seni tradisional sebagai sarana untuk merawat warisan leluhur bangsa.
“Pelestarian budaya seperti wayang kulit sangat penting agar tidak tergerus zaman globalisasi. Selain itu, ada efek domino yang luar biasa. Adanya acara seni pasti menciptakan simpul ekonomi baru; para pedagang UMKM di sekitar lokasi bisa ikut mengais rezeki dan kru pementasan juga mendapat penghasilan,,” ungkap RB, panggilan akrab Rizal Bawazier.
Harapan senada juga diungkapkan oleh para pelaku seni di Kabupaten Pemalang. Tokoh dan pegiat budaya setempat menyambut antusias rencana tersebut. Mereka meyakini, frekuensi pementasan yang teragendakan dengan baik akan menjadi ruang ekspresi sekaligus regenerasi bagi dalang-dalang muda agar karya mereka tetap diapresiasi masyarakat.
Joko Widodo ( 40 ) orangtua dari Dalang Cilik Narendra Hang Eshan, Warga kecamatan Pemalang, merasa bersyukur dengan rencana pementasan wayang kulit tersebut,
“Harapannya, pelestarian budaya Jawa harus terus dilestarikan, tidak hanya dilakukan pejabat pusat, tetapi pejabat daerah harus lebih peduli terhadap pelestarian budaya jawa, tidak hanya wayang kulit saja, tetapi budaya atau kesenian kesenian lainnya,” ujar Joko,saat dikonfirmasi,pada Senin ( 6/6 ).
Hal yang sama, diungkapkan oleh Bambang Widi ( 60 ) pemerhati seni budaya warga kelurahan Bojongbata, kecamatan Pemalang,
“Sangat setuju mengingat budaya Jawa yang semakin surut, perlunya menggalakan kembali dan bisa hadir dikalangan luas pada umumnya, Terima kasih atas partisipasinya nguri Uri budaya Jawa,” tuturnya.
Dengan menggandeng kearifan lokal seperti pagelaran wayang kulit dalam berbagai kegiatan masyarakat, langkah konkret Rizal Bawazier ini membuktikan bahwa wakil rakyat hadir tidak hanya di gedung parlemen, tetapi juga turun langsung memelihara denyut nadi kebudayaan di akar rumput. (Ragil).















