PEMALANG – Hiruk-pikuk aktivitas warga yang memadati kawasan Car Free Day di Alun-Alun Pemalang, Jawa Tengah, mendadak menarik perhatian. Di tengah terik matahari yang menyengat, tampak dua sosok raksasa berwarna mencolok berdiri tegak sambil melenggak-lenggok mengikuti irama musik tradisional Betawi.
Pemandangan tersebut bukan bagian dari festival budaya atau agenda resmi kesenian daerah. Sosok yang tak asing bagi masyarakat Indonesia itu adalah ondel-ondel, ikon budaya Betawi yang kali ini hadir sebagai sarana mencari nafkah bagi sekelompok seniman jalanan.
Di balik gerakan boneka setinggi sekitar dua setengah meter tersebut, tersimpan kisah perjuangan hidup yang tidak ringan. Ondel-ondel yang dahulu dikenal sebagai simbol sakral penolak bala dan penjaga kampung kini harus berkeliling dari satu daerah ke daerah lain demi mendapatkan uang receh dari para pengunjung.
Bagi masyarakat Betawi, ondel-ondel bukan sekadar hiburan. Kesenian ini merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam. Namun tekanan ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan membuat sebagian pelaku seni memilih membawa ondel-ondel keluar dari Jakarta hingga ke berbagai daerah, termasuk Kabupaten Pemalang.
Para pengamen ondel-ondel biasanya datang dalam kelompok kecil. Mereka membawa perangkat pengeras suara portabel, alat musik sederhana, serta kostum yang digunakan untuk menghidupkan suasana pertunjukan. Di balik topeng dan rangka anyaman bambu itu, ada harapan untuk membawa pulang penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.















