Kehadiran ondel-ondel di Pemalang menjadi pemandangan unik bagi masyarakat setempat. Di sisi lain, bagi para pelaku seni, perjalanan jauh dari tanah Betawi merupakan bentuk perjuangan untuk mempertahankan kehidupan sekaligus menjaga eksistensi budaya yang mereka cintai.
Mengamen Hingga ke Jawa Demi Bertahan Hidup
Adalah Ergy (18), seniman muda dari Sanggar Seni Zhapeng, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang ditemui saat tampil bersama tujuh rekannya dalam kegiatan Car Free Day di Alun-Alun Pemalang, Minggu (21/6).
Menurut Ergy, fenomena ondel-ondel yang turun ke jalan untuk mengamen tidak sepenuhnya lahir dari keinginan para pelaku seni. Kondisi ekonomi dan persaingan yang semakin ketat di Jakarta menjadi alasan utama mereka mencari peluang hingga ke luar daerah.
“Sebetulnya penampilan ondel-ondel secara resmi atau berkeliling mengamen seperti ini terancam kehilangan marwahnya jika terus-menerus harus terpapar panas dan hujan di jalanan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai perjalanan ondel-ondel hingga ke berbagai wilayah di Pulau Jawa merupakan bentuk adaptasi budaya di tengah perubahan zaman.
“Kami tidak hanya membawa budaya Betawi menembus batas geografis, tetapi juga menjadi saksi bagaimana sebuah tradisi harus beradaptasi demi mempertahankan eksistensinya. Terpaksa kami mengamen sampai ke Jawa karena di Jakarta sudah banyak penampilan ondel-ondel di jalanan,” tambahnya.
Fenomena ini mencerminkan dilema yang cukup kompleks. Di satu sisi, sejumlah budayawan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai penggunaan ondel-ondel sebagai sarana mengamen dapat mengurangi nilai dan kehormatan budaya tersebut. Bahkan berbagai upaya regulasi terus dibahas agar marwah ondel-ondel tetap terjaga.















