Artikel ini merupakan kiriman dari kontributor atau pembaca. Isi tulisan, data, opini, serta keakuratan informasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan berada di luar tanggung jawab Redaksi Metro Media News.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Ingin Menjadi Kontributor / Kirim Artikel?Oleh: Dedi Ahmad Ramdhani, S.Pd., M.M | Garut
Memasuki Bulan Safar, masih ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa bulan ini identik dengan kesialan, musibah, atau waktu yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan, memulai usaha, hingga bepergian jauh. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih dalam ajaran Islam.
Islam mengajarkan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta merupakan ketetapan Allah SWT. Tidak ada satu bulan pun dalam kalender Hijriah yang ditetapkan sebagai pembawa kesialan, termasuk Bulan Safar. Anggapan bahwa Safar adalah bulan sial berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah yang kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW melalui hadis-hadis sahih.
Salah satu hadis yang menjadi landasan utama dalam persoalan ini adalah sabda Rasulullah SAW:
“Laa ‘adwaa wa laa thiyarata wa laa haamata wa laa shafara.”
Artinya:
“Tidak ada penularan penyakit (yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada anggapan sial karena pertanda tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi penegasan bahwa Islam menolak segala bentuk takhayul, ramalan, maupun keyakinan yang mengaitkan suatu waktu dengan nasib buruk. Seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah SWT dan meyakini bahwa segala kebaikan maupun musibah terjadi atas izin-Nya.
Asal Mula Mitos Bulan Safar
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab memiliki berbagai kepercayaan yang tidak berdasarkan wahyu. Salah satunya adalah menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa bencana sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting pada bulan tersebut.
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.











