Pada kesempatan tersebut, Jull dkk meminta kepada PPWI sebagai organisasi jurnalistik untuk kerjasama yang berintegritas namun tetap prima dalam memberikan pelayanan dalam bidang pemberitaan kepada masyarakat pada umumnya dan masyarakat pencari keadilan pada khususnya. Sudah menjadi rahasia umum akan carut marutnya peristiwa Bowone, menjadi kerumitan tersendiri bagi semua orang baik itu masyarakat Sangihe maupun orang yang berada di perantauan yang berdarah keturunan Sangihe.
Lanjutnya, mereka mengikuti, mencermati setiap permasalahan yang menjadi drama Bowone dari awal tayang sampai sekarang dengan penuh kebimbangan. Terjadi gugat-menggugat antara SSI, PT. TMS dan pemerintah yang akhirnya dimenangkan oleh SSI. Namun di penghujung gugat-menggugat terdapat satu hal yang menarik sampai hari ini yaitu belum adanya tindakan dan langkah yang pasti dan tepat dari aparat penegak hukum untuk penertiban, khususnya bagi para pekerja tambang emas itu sendiri atau penambang liar.
“Kita tentunya berpikir, akan bermuara kemana permasalahan ini. Ada apa sesungguhnya di Bowone? Ketika kita melihat lebih dalam lagi ternyata orientasinya adalah uang, uang, dan uang. Yang harus dipahami ketika berbicara mengenai uang maka kita akan dibutakan, baik hati maupun pikiran. Yang ada hanya kepentingan sehingga kita jadi lupa sebab dan akibatnya yang kemudian hari menyengsarakan secara pribadi dan akhir dari semuanya dimenangkan oleh cukong-cukong pemodal,” ungkap Fentje Janis.
Fentje menambahkan, oleh karena itu PPWI mengajak semua elemen masyarakat Sangihe menggumuli permasalahan yang ada dan sepakat menjaga serta melestarikan “Banuang Kite I Kakendaghe demi masa depan anak cucu kita.”













