Ibarat bayi, kata Wina, Lokatmala, belum bisa apa-apa, untuk sekedar bergerak dan bersuara pun masih membutuhkan bantuan tangan dan kasih sayang dari orang-orang baik yang ada di sekelilingnya.
“Dan orang baik yang menuntun kami, membimbing dan mendorong kami untuk tumbuh mencapai visi dan harapan serta cita-cita besar itu tiada lain adalah Bapak/Ibu sekalian, yang hadir dan ada disini, saat ini. Terimakasih untuk semuanya,” sebutnya.
Wina menuturkan, banyak yang bertanya, apa itu Lokatmala Foundation dan kenapa nama Foundation ini dinamakan Lokatmala?
“Lokatmala artinya adalah bunga namun bunga langka, yakni bunga Edelweiss yang hanya ada di puncak gunung-gunung tinggi. Tak ada Eledweis yang tumbuh di dataran rendah. Kalaupun ada, pasti itu Edelweis plastik atau Edelwies yang dikeringkan,” terangnya.
Edelweis, sebut Wina, sering dimaknai sebagai ketenaran, ketenangan, mulia dan abadi. Namun bila tulisannya dipisah menjadi Lokat dan Mala mengandung arti membersihkan (lokat) sedangkan Mala artinya bencana, wabah atau sesuatu yang tidak baik atau buruk. Jadi Lokat Mala memiliki arti secara harfiah yakni membersihkan diri dari bencana, wabah atau hal-hal yang tidak baik atau buruk.
“Lirik (rumpaka) Tembang Sunda Cianjuran (mamaos), Lokat Mala, karya Bakang Abubakar (1980) yang menceritakan tentang keindahan alam Gunung Gede Pangrango, telah menginspirasi betapa romantika dan refleksi kehidupan penuh kesadaran, pemenuhan ruang batin, sekaligus penuh ekspresi telah melahirkan kesadaran tanpa batas bagi upaya pemaknaan diri,” papar Wina yang dalam pidatonya sesekali menyelipkan tembang mamaos Cianjuran yang dinyanyikannya sendiri dengan iringan musik secara live.















