“Itulah jalan kebudayaan yang senantiasa diperjuangkan oleh Lokatmala Foundation, hari ini juga nanti,” sambung Wina disambut riuh hadirin.
Tembang itu, jelas Wina, telah menginspirasi dan membangun gairah bagi pertumbuhan dan perjumpaaan kebudayaan bagi dirinya selaku salah satu pendiri Lokatmala Foundation.
“Ibarat usai silanglang di batu dongdang, energi baru merekah berkah sehingga siapapun yang mencapainya segan pulang sebelum membawa mustika itu dimanapun. Dan mustika itu adalah kepribadian bangsa yang terurai dalam ragam budaya yang agung yang dimiliki bangsa ini,” tambah Wina.
Ia berharap kehadiran Lokatmala bisa memantik kreatifitas baru dan menularkannya kepada yang lain. Menjadi virus positif untuk tumbuhnya jejaring kekuatan baru dalam derap langkah kebudayaan yang kadang terseok karena nihilnya keberpihakan kita pada jati diri bangsa yang sesungguhnya.
“Saatnya kita membangun karya. Karya yang bisa kita kerjakan meskipun dalam ritmis kecil dan temaram lilin kemasygulan. Kita terus bekerja untuk kebudayaan dengan jalan lurus kesungguhan. Malam ini kami mulai dengan Bismillah, dan doakan kami mencapainya!,” pintanya.
Berikut syair Lokat Mala dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang dibacakan dan dinyanyikan Wina dalam acara Lokatmala Nite yang membuat hadirin terpukau itu.
Lokat Mala
Gunung Gedé geusan nyarandékeun haté
(Gunung untuk menyandarkan hati)
Pangrango kuring ngadago
(Pangrango daku menanti)
Gunung Guruh da kuring mah henteu jauh
(Gunung Guruh aku ini tidak jauh)
Kaleuit Salawéjajar
(pada leuit dua puluh lima jajar)
Aduh lucu Alun-alun luhur gunung
(Aduh indah Alun-alun di atas Gunung)
Matak betah sarwa éndah
(Membuat betah serta indah)
Lokatmala marakbak baranang siang
(Lokatmala gemerlap gemilang cerlang)
Aduh manis jeung cantigi
(Adu manis dengan cantigi)
Ku napsu mah matak sungkan mulang
(Andai menuruti nafsu tentu akan
segan pulang)
Hayang ngahenang-ngahening
(Ingin tenang serta damai)
Ngahiyang di Batu dongdang
(Moksa di Batu Dongdang)
Silanglang di jamban hérang
(Berenang di air bening)
Moal mulang lamun teu acan kabandang
(Tak akan pulang kalau belum memetik mustika mandala wangi)
Rék lahlahan tatapa luhureun kawah
(Akan segera bertapa di atas kawah)
Malar hate henteu siwar
(Agar hati tetap tegar)















