Ditempat yang sama Kurnia (33) mengatakan, kalau memang pengelolaannya bagus dan terarah, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Tidak akan ada pengalihan fungsi lahan parkir menjadi tempat bermain anak-anak. Mungkin semua ini terjadi akibat kurangnya komunikasi antara pihak pengelola dan pihak pemerintahan setempat.
“Kurang komunikasi aja, kalau memang jelas mah mungkin bisa menggunakan lahan yang lain, begini kan akibatnya, sering macet,” ujarnya.
Namun disisi lain, sambung dia, banyak terjadinya parkir liar di area pasar Rengasdengklok, tidak sedikit pengendara motor yang memarkirkan kendaraannya menggunakan badan jalan. Dan anehnya, hal tersebut dibantu olaeh juru parkirnya sendiri.
“Kayanya Rengasdengklok harus benar-benar diperhatikan, karena ini merupakan tempat dan aset nasional yang berharga, juga merupakan tempat yang bersejarah,” kata dia.
Sebagai masyarakat, dirinya sangat mengharapkan Rengasdengklok ini menjadi tempat yang asri,indah, dan bisa mewakili Kabupaten untuk menjadi musium yang berharga dan sudah sepatutnya Rengasdengklok menjadi aset berharga. Dan hal tersebut bisa terjadi jika masyarakat dan aparat pemerinatahan
ya bersatu untuk membangun darihal yang terkecil.
“Bisa dimulai dari yang terkecil aja dulu, darikerapihan atau keasriannya mungkin,” pungkasnya. ( j2 ).















