SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
HOME

Pergeseran Preferensi Pemilih Nasionalis

152
×

Pergeseran Preferensi Pemilih Nasionalis

Sebarkan artikel ini

METROMEDIANEWS, CIANJUR – Hasil survei sekaligus kajian Barometer Politik Indonesia (INDOMETER) menilai sekaligus memberikan bocoran, politik aliran pernah sangat kentara saat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955, dan sempat disebut-sebut bangkit kembali pascareformasi, Senin (18/3).

Survei tersebut dilakukan pada 1 hingga 7 Maret 2019, dengan jumlah responden 1280 orang mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error ±2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pendalaman kajian dilakukan melalui focus group discussion dengan mengundang pakar terkait.

Direktur Eksekutif Barometer Politik Indonesia (INDOMETER), Leonard Sb mengatakan, penyederhanaan sistem kepartaian mengerucutkan jumlah partai, di mana kutub nasionalis paling kuat ada pada PDI Perjuangan. Partai politik lain seperti Gerindra, Demokrat, dan Nasdem mengaku pula sebagai partai-partai nasionalis.

“Nah, Partai Demokrat bahkan melabeli diri sebagai persenyawaan antara kutub nasionalis dengan Islam, dalam jargon nasionalis-religius. Pemilu 2019 merupakan kali pertama berjalan serentak antara pemilihan presiden (Pilpres) secara langsung dengan pemilihan anggota legislatif (Pileg),” jelasnya.

PDIP dan Gerindra sebagai partai utama pengusung Capres-Cawapres paling menikmati coattail effects. Kedua-duanya dapat dikelompokkan dalam spektrum partai nasionalis yang berpotensi menjadi partai dominan di parlemen mendatang. Sejauh mana lonjakan elektabilitas kedua partai dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Indometer.

“Suara PDIP dan Gerindra memang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hasil Pileg 2014,” kata, Leonard Sb saat dihubungi langsung, kemarin.

Temuan survei Indometer menunjukkan elektabilitas PDIP mencapai 23,5 persen, sedangkan Gerindra 13,4 persen. Pada Pileg 2014, suara PDIP tidak mencapai 20 persen, sementara posisi Gerindra masih di bawah Golkar.

Leonard seorang aktivis sudah terkenal namanya kemana-mana di Jawa Barat ini menambahkan, Leonard, faktor presidential threshold yang mengunci jumlah pasangan calon hanya dua pasang memberi keuntungan bagi kedua partai politik. PDIP diperkirakan akan menjadi partai pemenang pemilu, disusul Gerindra sebagai runner up. Di sisi lain, Pemilu 2019 juga akan menjadi akhir dari kejayaan Golkar.

“Sejak pemilu pertama pasca-reformasi Golkar selalu menempati peringkat pertama atau kedua, baru kali ini Golkar tergeser ke posisi ketiga, dengan elektabilitas 10,2 persen,” bebernya.

Posisi Golkar juga dibayangi oleh PKB, dengan elektabilitas 8,9 persen. Sambung Leonard, PKB sedikit banyak diuntungkan oleh figur Kyai Ma’ruf sebagai Cawapres. Dengan latar belakang NU yang menjadi basis massa tradisional, posisi PKB relatif lebih aman dibanding Demokrat.

“Berkebalikan dengan hasil Pileg 2014, PKB juga berpeluang menggeser posisi Demokrat yang meraih elektabilitas 6,3 persen, meskipun masih termasuk lima besar,” papar Leonard.

Posisi papan tengah didominasi oleh partai-partai Islam, yaitu PPP 3,9 persen, PAN 3,7 persen, dan
PKS 3,4 persen. Lalu ada partai Nasdem yang memimpin elektabilitas papan tengah sebesar 4,1 persen.
Dua partai baru menyusul, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo berhasil menembus papan
tengah. PSI meraih elektabilitas 3,6 persen.

Sedangkan Perindo menjadi juru kunci dengan elektabilitas 2,8 persen. Sisanya adalah partai-partai yang diprediksi tidak bakal lolos ke Senayan, yaitu Hanura 1,1 persen, PBB 0,9 persen, PKPI 0,8 persen, Berkarya 0,5 persen, dan Garuda 0,2 persen.

“Lalu, Partai Hanura menjadi satusatunya partai lama yang bakal terpental tidak mendapat kursi, demikian pula dengan PBB dan PKPI, sejak 2009 tidak meraih kursi lagi di Senayan,” kata Leonard.

Sedangkan Berkarya dan Garuda menjadi partai baru yang bakal tersisih oleh ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Temuan menarik adalah capaian PSI sebagai partai baru yang berhasil menyejajarkan diri dengan partai-partai papan tengah.

Bila melihat hasil survei sejumlah lembaga sejak dimulainya musim kampanye pada September 2018 lalu, elektabilitas PSI cenderung mengalami peningkatan. Dari kisaran nol koma selama tiga bulan pertama, bergerak merayap ke 1,5 hingga 1,7 persen pada pergantian tahun. Dalam dua bulan, Februari-Maret 2019, elektabilitas PSI melonjak dari 2,8 persen menjadi 3,6 persen.

“Dua partai utama, PDIP dan Gerindra mengalami peningkatan dalam tiga bulan pertama, tetapi trendnya kemudian menurun,” jelas Leonard.

Sedangkan tiga partai besar lainnya, yaitu Golkar, PKB, dan Demokrat cenderung stabil. Demikian pula dengan partai-partai papan tengah, termasuk Nasdem dan Perindo.

Menurut Leonard, besar kemungkinan terjadi migrasi pemilih dari partai nasionalis utama yaitu PDIP dan Gerindra, di mana PSI mendapat limpahan paling banyak. Sikap PSI mendukung capres Jokowi dan serangan gencar yang dilakukan terhadap oposisi memberi efek elektoral signifikan. Sebagai bagian dari koalisi, PSI tidak segan-segan melancarkan kritik keras seputar isu korupsi dan intoleransi.

Dalam dua kali pidato, ketua umum PSI Grace Natalie bahkan mengarahkan telunjuk kepada partai-partai nasionalis yang justru mendukung pengesahan Perda Syariah.

“Masih perlu pendalaman lebih lanjut, tetapi tampak terjadi pergeseran prefensi pemilih nasionalis,” pungkas Leonard.(mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *