PEMALANG – Di usianya yang menginjak 85 tahun, saat banyak orang lanjut usia lebih memilih menghabiskan waktu dengan beristirahat di rumah, Parikhin justru masih harus berjuang keras di jalanan.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Lelaki paruh baya asal kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang ini adalah potret nyata seorang pekerja keras yang tak kenal lelah, mengandalkan tenaga demi menyambung hidup dengan mengayuh becak.
Bukan waktu yang singkat, ia telah melakoni profesi ini sejak dekade 1960-an. Sejarah mencatat, ia sudah mulai menarik becak jauh sebelum peristiwa G30S PKI, melewati berbagai pergantian zaman.
Meski pedal becaknya kini sudah berderit termakan usia, semangatnya mengantarkan penumpang tidak pernah pudar.
Ibadah Tak Halangi Pekerjaan
Kisah Kakek Parikhin semakin menginspirasi saat hari Kamis tiba. Di tengah sengatan terik matahari wilayah Pantura, ia tetap konsisten menjalankan ibadah puasa Sunah Senin -Kamis sambil terus mencari nafkah di seputaran Jalan Gatot Subroto dan wilayah perkotaan Pemalang.
Baginya, kesulitan dan keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk tetap menunaikan tatanan dalam beragama.
“Berpuasa sunah Senin- Kamis atau ibadah lainya itu urusan hati. Kalau sudah niat, kesulitan apa pun tidak akan menghalangi,” ungkapnya dengan senyum yang tabah, saat ditemui pada Kamis ( 2/7 ).
Pahlawan Keluarga yang Sederhana
Bagi Kakek Parikhin, becak tuannya bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu perjuangan hidupnya selama puluhan tahun. Ia tidak pernah mengeluhkan kerasnya persaingan zaman saat ini.
Sorot matanya yang masih tajam dan pancaran wajahnya yang bersahaja menjadi simbol ketahanan masyarakat kelas bawah yang terus bergerak maju tanpa menggantungkan belas kasihan orang lain.
Kisah hidup Kakek Parikhin mengajarkan kita sebuah arti penting dari rasa syukur, kesabaran, dan kerja keras. Di tengah hiruk-pikuk modernitas Kabupaten Pemalang, sosoknya menjadi pengingat berharga untuk selalu menghargai setiap rezeki yang halal, sekecil apa pun itu. ( Ragil)















