HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
DKI JakartaEkonomiGaya HidupHOMEOpini Pembaca

Secularization of Mind: Mengapa Anak Muda Lebih Takut Tak Punya Uang daripada Dosa Riba?

44
×

Secularization of Mind: Mengapa Anak Muda Lebih Takut Tak Punya Uang daripada Dosa Riba?

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi. Secularization of Mind: Mengapa Anak Muda Lebih Takut Tak Punya Uang daripada Dosa Riba? (Gambar: Red./AI)
📝 Keterangan Redaksi

Artikel ini merupakan kiriman dari kontributor atau pembaca. Isi tulisan, data, opini, serta keakuratan informasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan berada di luar tanggung jawab Redaksi Metro Media News.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Ingin Menjadi Kontributor / Kirim Artikel?

Oleh: Robi Firmansyah | Jakarta Timur

JAKARTA, 16 Agustus 2026 – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi, generasi muda berusia 22–30 tahun menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan prinsip keagamaan dalam mengelola keuangan.

Kebutuhan akan uang tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup. Bagi sebagian anak muda, penghasilan bulanan harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, hingga kebutuhan keluarga. Dalam kondisi tersebut, akses terhadap kredit dan layanan paylater menjadi salah satu pilihan yang semakin mudah dijangkau.

Berdasarkan survei yang dilakukan penulis terhadap kelompok pekerja muda dan karyawan swasta, sebanyak 40 persen responden mengaku bahwa kekhawatiran terbesar mereka dalam kondisi ekonomi saat ini adalah tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan harian. Sementara itu, 40 persen lainnya mengaku menghadapi kecemasan ganda, yaitu kekhawatiran tidak memiliki uang sekaligus kecemasan terhadap risiko penggunaan kredit berbunga atau paylater.

Temuan tersebut memperlihatkan adanya dilema yang menarik: ketika kebutuhan ekonomi semakin mendesak, sejauh mana prinsip keagamaan masih menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan finansial?

Sekularisasi Agama dalam Kehidupan Ekonomi

Konsep sekularisasi yang dibahas Peter L. Berger dapat digunakan sebagai salah satu perspektif untuk membaca perubahan hubungan antara agama dan kehidupan sosial modern.

Sekularisasi tidak selalu berarti hilangnya agama dari kehidupan seseorang. Dalam konteks masyarakat modern, agama dapat tetap menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan pribadi, tetapi keputusan dalam bidang tertentu semakin banyak dipengaruhi oleh pertimbangan praktis, ekonomi, dan rasionalitas individual.

HUT RI ke-81 – Reward MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *