Oleh sebab itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Anak muda tidak cukup hanya memahami cara memperoleh pinjaman, tetapi juga perlu memahami kemampuan membayar, biaya yang muncul, konsekuensi keterlambatan, serta aspek hukum dan keagamaan dari produk finansial yang digunakan.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan prinsip moral dan keagamaan.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah mereka lebih takut tidak memiliki uang daripada dosa riba. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika kebutuhan hidup, kemampuan ekonomi, dan keyakinan agama berada dalam satu persimpangan.
Di tengah kemudahan teknologi finansial, pilihan tersebut kembali kepada setiap individu. Namun, kebebasan memilih idealnya berjalan bersama pengetahuan, tanggung jawab, kemampuan mengendalikan diri, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap keputusan finansial.
Sumber:
Marzuki, dkk. (2024). Teori Sekularisasi. Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(1), 1000–1009, UIN Sumatera Utara.
Catatan redaksi: Karena artikel menggunakan data survei pribadi, sebaiknya penulis melengkapi jumlah responden, waktu pelaksanaan survei, karakteristik responden, dan metode pengambilan sampel. Ini penting agar angka 40% dan 60% dapat dipertanggungjawabkan secara jurnalistik.
MetroMediaNews.co memberikan Reward bagi Penulis, Kontributor, dan Wartawan dengan kategori Berita Terbaik, View Terbanyak, dan Kontributor Terbaik. ✍️ Kirim artikel Anda sekarang »











