PEMALANG – Kisah Kakek Kastari (85), penjual kerupuk goreng asal Kelurahan Beji, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, menjadi potret keteguhan hidup di usia senja. Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap berjuang mencari nafkah secara halal tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain.
Setiap hari, Kakek Kastari berkeliling menggunakan sepeda motor tuanya, membawa puluhan bungkus kerupuk goreng yang digantung dengan tali rafia. Ia menyusuri jalan-jalan kampung hingga ruas jalan protokol di Pemalang untuk menawarkan dagangannya.
Sejak pagi, sebelum matahari meninggi, keringat sudah membasahi kaos lusuh yang dikenakannya. Dengan tubuh renta dan langkah yang tak lagi tegap, ia tetap menahan beban dagangan demi menyambung hidup.
Kerupuk yang dijualnya bukan milik pribadi, melainkan sistem konsinyasi dari seorang pembuat kerupuk. Dari setiap bungkus seharga Rp5.000, Kakek Kastari hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp1.000.
“Alhamdulillah, yang penting bisa buat makan dan tidak merepotkan orang,” ujarnya, Minggu (21/6).
Meski sederhana, Kakek Kastari dikenal memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia kerap menolak jika ada pembeli yang ingin memborong dagangannya dengan harga lebih tinggi dari ketentuan.
“Kerupuk ini harganya segini, kalau dikasih lebih saya jadi merasa tidak adil sama pembeli lain,” tambahnya.
Sikap jujur dan konsisten itu membuatnya dihormati banyak warga. Pembeli tidak hanya datang karena membutuhkan kerupuk, tetapi juga karena menghargai ketulusan dan perjuangannya.
Perjuangan di Tengah Terik dan Sepi
Perjalanan berjualan tidak selalu mudah. Kakek Kastari kerap harus menahan lapar saat di jalan karena keterbatasan uang. Saat hujan turun, ia terpaksa berteduh di pinggir ruko sambil berharap masih ada pembeli yang datang.















