HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
HUT RI KE-81
METRO MEDIA NEWS
PEDULI 2026
PROGRAM
🏆 Lomba Tradisional
🎭 Hiburan Masyarakat
📰 Lomba Artikel Berita
🤲 Santunan Yatim, Dhuafa & Jompo
TUJUAN
✔ Menumbuhkan Kepedulian Sosial
✔ Mempererat Kebersamaan
✔ Semangat Gotong Royong
TERBUKA UNTUK
✔ Pemerintah
✔ Perusahaan
✔ Komunitas
✔ Masyarakat
DaerahKab. Pemalang

Kemarau Panjang Paksa Warga Pulosari Rogoh Kocek Ratusan Ribu Demi Air Bersih

49
×

Kemarau Panjang Paksa Warga Pulosari Rogoh Kocek Ratusan Ribu Demi Air Bersih

Sebarkan artikel ini
1001337046
Sejumlah warga sedang antri mengisi air bersih dari tangki air BPBD Pemalang ( Foto: Ragil )

PEMALANG Musim kemarau panjang yang melanda wilayah selatan Kabupaten Pemalang telah mengubah air menjadi harta karun yang paling dicari. Bagi warga di kawasan lereng Gunung Slamet, Kecamatan Pulosari, kekeringan bukan sekadar fenomena alam tahunan biasa, melainkan ujian berat yang memaksa mereka menguras tabungan demi bertahan hidup.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Sudah lebih dari dua hingga tiga bulan terakhir, sumur-sumur dan sumber mata air milik warga di Desa Pulosari dan sekitarnya mengering. Ketiadaan cadangan air memaksa warga yang tidak mampu membuat sumur bor untuk memutar otak dan mengandalkan pasokan air tangki.

Salah satu warga, Plenong (28), menuturkan bahwa krisis ini telah menjadi momok yang menggerus ekonomi keluarganya. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus membeli air dari mobil tangki swasta seharga Rp250 ribu per satu tangki dengan kapasitas sekitar 6.500 liter.

“Kekeringan sudah melanda desa kami sekitar tiga bulan, dan kami harus membeli air bersih dalam satu bulan seharga Rp500 ribu” ujar Plenong, Minggu ( 19/7 ).

Air tersebut kemudian ditampung di bak penampungan rumah dan dihemat penggunaannya untuk kebutuhan minum, memasak, mandi, hingga mencuci. Ironisnya, air satu tangki tersebut hanya mampu bertahan paling lama sekitar dua pekan.

“Kalau beli sekitar Rp250 ribu per tangki. Biasanya cukup untuk dua minggu saja, jadi dalam sebulan bisa habis sekitar Rp500 ribu,” ungkapnya.

Musim kemarau kali ini dirasakan sebagai salah satu yang terberat. Berdasarkan data dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, krisis air bersih telah meluas hingga 30 desa di tujuh kecamatan, yakni Pulosari, Watukumpul, Randudongkal, Warungpring, Belik, Bantarbolang, dan Bodeh. Sebanyak 93.357 jiwa terdampak akibat mengeringnya sumur-sumur warga.

Metro Media News Peduli 2026

Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.

Lihat Proposal & Informasi Lengkap »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *