Tangerang – Tidak hanya dari kalangan masyarakat, gelombang protes terhadap kegiatan study tour murid sekolah yang saat ini banyak menyimpang juga datang dari forum wartawan “Gabungan Wartawan Tangerang” (GAWAT).
Sekretaris Gabungan Wartawan Tangerang, Dedy Rahman, menyayangkan pelaksanaan kegiatan study tour yang telah banyak menyimpang.
Dedy menjelaskan, berdasarkan hasil temuan dilapangan dan informasi masyarakat masih banyak ditemukan sekolah negeri dan swasta di Kota Tangerang adanya penyimpangan kegiatan study tour berkedok outing class dengan biaya yang sangat fantastis dan bersifat wajib sehingga membebani para orang tua murid, khususnya bagi yang kurang mampu.
“Berkedok outing class namun pelaksanaannya keluar daerah seperti Bandung dan Jogjakarta dengan dalih tujuan akademik,” ungkap Dedy.
Ia menilai, diadakan acara study tour berkedok outing class disekolah hanyalah sebuah bentuk bisnis dan mencari keuntungan bagi pihak sekolah yang menyelenggarakan.
“Untuk itu kami (GAWAT) minta Pemkot Tangerang dan Dinas Pendidikan Kota Tangerang cepat tanggap dengan adanya laporan masyarakat, media dan LSM, terkait aduan tentang kegiatan study tour berkedok outing class yang dalam hal ini pelaksanaan kegiatan harus diperketat dengan sejumlah regulasi sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Sebelumnya Dinas Pendidikan Kota Tangerang melarang kegiatan study tour ke luar wilayah Tangerang bagi seluruh pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keputusan ini keluar buntut dari kecelakaan lalu lintas yang menimpa bus rombongan SMPN 4 Tangerang saat perjalanan menuju Kota Bandung, Rabu (15/2/2023) pagi.













