Kemenag, sebut Kang Ace, harus memberikan penjelasan kuota yang tidak terpenuhi, dari 100.051 kuota, terpenuhi 99.887 jamaah yang berangkat. Termasuk pelayanan di Masyair yang dirasa tidak seperti yang diharapkan.
“Pelayanan di Masyair, walaupun terjadi peningkatan (layanan) namun ini tidak sebanding dengan biaya yang diberikan,” ungkapnya dihadapan Kepala Kemenag Kab. Bandung, Abdulrohim dan puluhan peserta yang terdiri dari Kepala KUA dan penyuluh se-Kabupaten Bandung tersebut.
Menurut Kang Ace, sisa anggaran dari penyelenggaraan haji masih besar yakni Rp. 546 miliar. Kemenag juga harus mendorong terciptanya ekosistem ekonomi haji, yaitu bagaimana produk-produk Indonesia betul-betul bisa dimanfaatkan bagi jamaah haji Indonesia juga.
“Jadi jangan sampai misalnya sayur-sayuran dari Thailand, kemudian Ikan Patin dari Thailand, beras dari Vietnam. Jadi ini harus ada komitmen politik kita untuk mendorong agar haji ini kembali ke kita juga,” sebutnya.
Pihaknya kata Kang Ace akan terus mengawal agar pelayanan haji ini bisa semakin baik, seperti pada saat Jamarah dimana rentan sekali jamaah yang mengalami persoalan kesehatan bahkan meninggal.
Jamarah atau melempar jumrah adalah salah satu rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Kegiatan ini dilakukan dengan melempar batu-batu kecil ke sebuah pilar elips pipih yang ada di Mina.
Berdasarkan catatan media, selama fase puncak haji, sejak 8 Zulhijjah 1443 H atau 7 Juli 2022, ada 14 jemaah haji asal Indonesia yang wafat, baik di Makkah, Arafah, maupun Mina. Total terdapat 41 orang jemaah yang meninggal dalam penyelenggaraan tahun ini.















