Deden Nasihin tidak lupa menyinggung tragedi gempa yang melanda Cianjur dua tahun lalu. Ia menyatakan keprihatinannya atas korban yang hingga kini belum mendapatkan hak mereka.
“Masih ada ribuankeluarga yang belum menerima haknya. Kami pastikan, di bawah kepemimpinan kami, semua korban akan mendapatkan perhatian penuh,” ujar Doktor Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu.
Dukungan untuk Pesantren dan Santri
Sebagai tanah para santri, Deden Nasihin juga berkomitmen mendukung keberlangsungan pesantren di Cianjur. Ia menjanjikan alokasi dana setiap tahun untuk mendukung operasional dan program pemberdayaan pesantren.
“Santri tidak hanya harus menguasai kitab kuning, tetapi juga dibekali keterampilan hidup seperti bercocok tanam, ekonomi kreatif, dan wirausaha,” kata Deden.
Ia mencontohkan keberhasilan salah satu pesantren di Cianjur yang mengembangkan pertanian melon hingga mampu bersaing secara ekonomi.
Sebelumnya Calon Wakil Bupati, Efa Fatimah, juga turut menyampaikan pidato politiknya dengan penuh semangat. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka dalam kontestasi politik ini adalah atas kehendak dan izin Allah SWT.
“Kami bukan siapa-siapa, tetapi kami terpanggil untuk membawa perubahan bagi Cianjur. Mohon doa dan dukungannya agar kami diberi kekuatan untuk membenahi Cianjur tercinta ini,” ucap Dokter Efa, begitu ia biasa disapa akrab koleganya.
Kampanye akbar pasangan Deden-Efa makin semarak karena dihadiri oleh sejumlah ulama dan pimpinan pondok pesantren (PP) terkemuka, seperti KH. Abdurrahman Asnawi (PP Nurul Muhtar Taluk Agung), KH. Mukarom (PP Al-Mukaromah Burujul), KH. Mamal Mufid Murtado, Lc. (PP Miftahul Huda Al-Musri) dan KH. Drs. Umar Burhanuddin (PP At-Taqwa) serta KH. RD. Chevy Hibbatullah (PP Hibbatussa’diyah), KH. Ahmad Nawawi (PP Al-Istiqlal Cianjur).















