SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
AsiaHOMEPenipuanPolriTimor Tengah Selatan

Keluarga Korban Apresiasi Aparat Usai Yunita Olia Lassa Diselamatkan dari Dugaan TPPO di Malaysia

449
×

Keluarga Korban Apresiasi Aparat Usai Yunita Olia Lassa Diselamatkan dari Dugaan TPPO di Malaysia

Sebarkan artikel ini
Poto Olia Lassa diselamatkan dari dugaan TPPO di Malaysia

Namun setibanya di Malaysia, korban diduga mengalami intimidasi dan eksploitasi. Telepon genggam serta kartu identitas miliknya disebut dirampas. Korban bahkan diminta membayar Rp30 juta apabila ingin dipulangkan ke Indonesia.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Merasa tertekan dan ketakutan, korban bersama keluarganya akhirnya meminta bantuan kepada Ditres PPA-PPO Polda NTT agar bisa diselamatkan dan dipulangkan ke tanah air.

Menindaklanjuti laporan tersebut, anggota Subdit III TPPO Ditres PPA-PPO Polda NTT bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Polres TTS. Sebelumnya, pihak keluarga telah membuat laporan polisi pada 23 Maret 2026.

Koordinasi juga dilakukan secara intensif dengan KBRI Kuala Lumpur, KJRI Serawak, dan Divhubinter Polri guna memastikan proses penyelamatan berjalan aman.

Yunita Olia Lassa kini berada di shelter KBRI sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia

“Korban saat ini sudah berhasil diamankan dan ditempatkan di shelter KBRI Serawak sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia,” ujar Kombes Pol Nova.

Keluarga korban berharap aparat penegak hukum terus mendalami kasus tersebut dan mengusut seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan pengiriman tenaga kerja ilegal.

“Kami meminta agar pelaku diberikan hukuman yang setimpal sesuai hukum yang berlaku, karena perbuatan mereka sangat merugikan dan membahayakan masa depan banyak anak muda asal Nusa Tenggara Timur, khususnya Nuapin Kabupaten Timor Tengah Selatan,” lanjut pernyataan keluarga.

Mereka juga menduga masih terdapat korban lain yang dikirim ke Malaysia melalui jalur nonprosedural oleh oknum tertentu. Karena itu, keluarga berharap kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban perdagangan orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *