Dijelaskan LaNyalla, kepedulian ini turut menentukan masa depan para pemuda dan mahasiswa.
“Apakah di masa depan kalian sebagai warga bangsa ini akan berdaulat dan berdikari, atau menjadi buruh dari perusahaan-perusahaan asing yang berdiri di sini, semua akan sangat tergantung dari sistem politik negara ini dan pemahaman mahasiswa terkait politik,” katanya.
LaNyalla juga mengajak mahasiswa dan pemuda untuk memahami situasi kebangsaan. Salah satu syaratnya, menjaga diri dengan istiqomah beribadah shalat dan memperbanyak puasa dan ibadah sunnah lainnya.
“Jadi kita akan diangkat derajat oleh Allah. Shalat bukan hanya shalat lima waktu, tapi juga lakukan yang sunnah yakni Tahajud dan Dhuha. Dan yang terpenting adik adik semua harus bertekad untuk menjalankan ibadah sunnah lainnya, termasuk puasa Daud,” tandas LaNyalla yang memang dikenal sebagai pelaku puasa Daud.
Karena, tambahnya, kita akan dijaga dari hal-hal yang jahat. Puasa Daud membuat kita terjaga dalam menjaga politik dan berpolitik. Saya sampaikan ini bukan untuk pamer, tapi saya kasih tahu kunci utama saya jadi ketua DPD RI kepada kalian semua,” kata LaNyalla.
Alumnus Universitas Brawijaya Malang itu mengaku sengaja tidak berbicara soal-soal yang ada di Hilir.
“Apalagi memberi harapan palsu dengan mengatakan bahwa kita akan memasuki era Bonus Demografi, kita akan menjadi negara the big five di Asia. Padahal, roadmap ke arah itu tidak terbaca,” kata LaNyalla.
Menurutnya, Indonesia akan susah menjadi negara besar, bila prasyarat untuk menjadi negara besar tidak kita temukan. Salah satunya adalah kekuatan Ideologi bangsa, yang memperkuat kedaulatan, kemandirian dan berdikarinya sebuah bangsa.















