TEGAL – Musim kemarau kembali memicu krisis air bersih di Kabupaten Tegal. Warga Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara kini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Untuk bertahan, mereka harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju satu-satunya sumber mata air yang masih mengalir. Tak jarang, warga juga terpaksa memanfaatkan air sungai.
Kondisi ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir dan menjadi langganan tahunan setiap kemarau tiba. Mereka terpaksa berjalan kaki menuju satu-satunya sumber mata air yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari desa mereka.
Sejak sebulan terakhir, warga di desa ini telah mengalami krisis air bersih. Debit air di sumur-sumur warga berkurang drastis bahkan banyak yang mengering. Akibatnya, satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan hanya ada di luar desa.
Keterbatasan akses membuat warga harus memutar otak. Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, tak jarang warga terpaksa mengambil air sungai. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, warga tidak punya pilihan lain selain membeli di luar desa dengan harga cukup mahal, yakni Rp4.000 per jerigen.
“Sudah sebulan ini susah air. Sumur pada kering. Tiap hari jalan ke sumber air yang jauh. Kalau buat masak sama minum ya beli, satu jerigen empat ribu,” ujar Sumiyati, salah satu warga, Selasa (21/07/26).
Upaya Pemerintah Desa
Untuk mengatasi bencana kekeringan yang terjadi setiap tahun ini, Pemerintah Desa Tamansari telah mengajukan bantuan air bersih ke PMI dan BPBD Kabupaten Tegal. Bantuan distribusi air diharapkan dapat meringankan beban warga selama musim kemarau.
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.











