PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
BudayaDaerahHOMESumedang

Milangkala RWS ke-70, Bija Suci dan Warisan Trah Padjajaran

358
×

Milangkala RWS ke-70, Bija Suci dan Warisan Trah Padjajaran

Sebarkan artikel ini
63753

Rawat Warisan Budaya Sumedang

Hal senada disampaikan Ketua Umum RWS Puseur, Ir. Rd. Dany Ramdhani Soeriakoesoemah. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, khususnya putra-putri Sumedang, untuk bangga terhadap sejarah daerahnya.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Menurutnya, Sumedang memiliki kedudukan penting dalam perjalanan sejarah Sunda karena memiliki keterkaitan dengan perjalanan Kerajaan Padjajaran dan Sumedang Larang.

Ia menjelaskan, kebesaran Padjajaran kemudian terlimpah kepada Sumedang Larang. Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah tersebut berkembang dan terbagi ke dalam sejumlah umbul, di antaranya Umbul Hurbeuti, Parakanmuncang, Sindangkasih, Surawisesa serta wilayah lainnya.

“Sekarang sudah tergabung dalam bingkai NKRI. Sumedang Larang atau Kabupaten Sumedang ini adalah yang mempunyai sejarah peninggalan tersebut tadi, sebagai penerus Padjajaran,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkumpulan RWS memiliki tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Dalam perkembangannya, RWS kemudian diputuskan pada 1955 dan dituangkan dalam akta notaris pada 1956.

“RWS ini bukan satu klan dari leluhur Pangeran Sumedang, tapi dari dua sisi, yakni Prabu Geusan Ulun dan Syekh Datuk Kahfi. Mari kita rawat arwah leluhur, mengingat purwadaksi atau riwayat leluhur-leluhur yang begitu mulia,” jelasnya.

Sebagai Ketua Umum, ia juga mengajak seluruh mandala untuk membangun kesadaran serta memahami posisi sebagai bagian dari penerus nilai-nilai luhur Padjajaran.

Menurutnya, Sumedang memiliki peran sebagai salah satu puser budaya Sunda yang memiliki nilai-nilai adiluhung. Karena itu, setiap mandala diharapkan mampu menjaga marwah sekaligus mewariskan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing wilayah.

Pendaftaran Jurnalis – MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *