Rawat Warisan Budaya Sumedang
Hal senada disampaikan Ketua Umum RWS Puseur, Ir. Rd. Dany Ramdhani Soeriakoesoemah. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, khususnya putra-putri Sumedang, untuk bangga terhadap sejarah daerahnya.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Menurutnya, Sumedang memiliki kedudukan penting dalam perjalanan sejarah Sunda karena memiliki keterkaitan dengan perjalanan Kerajaan Padjajaran dan Sumedang Larang.
Ia menjelaskan, kebesaran Padjajaran kemudian terlimpah kepada Sumedang Larang. Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah tersebut berkembang dan terbagi ke dalam sejumlah umbul, di antaranya Umbul Hurbeuti, Parakanmuncang, Sindangkasih, Surawisesa serta wilayah lainnya.
“Sekarang sudah tergabung dalam bingkai NKRI. Sumedang Larang atau Kabupaten Sumedang ini adalah yang mempunyai sejarah peninggalan tersebut tadi, sebagai penerus Padjajaran,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkumpulan RWS memiliki tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Dalam perkembangannya, RWS kemudian diputuskan pada 1955 dan dituangkan dalam akta notaris pada 1956.
“RWS ini bukan satu klan dari leluhur Pangeran Sumedang, tapi dari dua sisi, yakni Prabu Geusan Ulun dan Syekh Datuk Kahfi. Mari kita rawat arwah leluhur, mengingat purwadaksi atau riwayat leluhur-leluhur yang begitu mulia,” jelasnya.
Sebagai Ketua Umum, ia juga mengajak seluruh mandala untuk membangun kesadaran serta memahami posisi sebagai bagian dari penerus nilai-nilai luhur Padjajaran.
Menurutnya, Sumedang memiliki peran sebagai salah satu puser budaya Sunda yang memiliki nilai-nilai adiluhung. Karena itu, setiap mandala diharapkan mampu menjaga marwah sekaligus mewariskan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing wilayah.
MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »











