MMN.co, Kab. Tangerang – Sejumlah orang tua murid di SDN 4 Tanjakan, desa Tanjakan Mekar Kecamatan Rajeg, mengeluhkan kekurangan buku Kurikulum Merdeka yang terjadi di sekolah tersebut. Permasalahan ini menyebabkan sebagian siswa terpaksa memfotokopi buku atau bahkan membeli buku dari luar. Kondisi ini memicu pertanyaan mengenai penggunaan anggaran Dana BOS, khususnya pada pos Rencana Anggaran Belanja (RAB) untuk pengembangan perpustakaan yang mencapai puluhan juta rupiah.
Kekurangan buku Kurikulum Merdeka telah mempengaruhi proses pembelajaran di SDN 4 Tanjakan. Orang tua murid mengungkapkan bahwa mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memfotokopi atau membeli buku dari luar, padahal seharusnya buku-buku tersebut disediakan oleh sekolah secara gratis.
Masalah ini melibatkan SDN 4 Tanjakan, Kecamatan Rajeg, sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyediaan buku, serta para orang tua murid yang terdampak akibat kekurangan buku. Salah satu narasumber, Ibu berinisial S, yang enggan disebutkan namanya, seorang ibu rumah tangga yang tidak sengaja bertemu awak media saat sedang memfotokopi buku Kurikulum Merdeka untuk dijilid, mengatakan, “Ya, Pak, saya jilid habis, yang dapat buku cuma orang tua yang dekat dengan gurunya. Saya capek harus gantian pinjam ke orang tua yang lain. Ya, saya jilid aja deh fotokopi,” ujarnya sambil menunjukkan hasil jilidannya.

Namun, berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan, saat awak media melakukan klarifikasi kepada pihak sekolah, mereka menyatakan bahwa kekurangan buku terjadi karena keterbatasan stok yang tersedia. “Tapi sudah kami bagikan kok, Pak,” ujar Kepala Sekolah.















