“Tujuannya kan bagaimana supaya indikator tujuan intervensi gizi ini tercapai, tapi penerima manfaatnya lebih fokus,” ungkap Agustina.
Ia mencontohkan, siswa SMA dari kalangan ekonomi mampu kemungkinan tidak lagi menjadi prioritas penerima program.
“Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100.000, Rp200.000 gitu ya, yang high class itu tidak perlu lagi,” jelasnya.
Menurut Agustina, jika siswa SMA dikeluarkan dari daftar penerima manfaat, jumlah penerima MBG dapat berkurang sekitar 8 juta orang.
“Nah, itu yang kami exercise, tapi kami tidak menghilangkan esensi dari intervensi gizi yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi, refocusing diperlukan supaya lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Saat ini, penerima manfaat MBG mencakup siswa sekolah, santri, serta kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program tersebut juga telah diperluas untuk menjangkau kelompok lanjut usia (lansia).
Anggaran MBG 2027 Capai Rp270,2 Triliun
Sementara itu, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis pada tahun 2027 telah mendapatkan pagu indikatif sebesar Rp270,2 triliun dari Kementerian Keuangan dan Bappenas.
Anggaran tersebut diproyeksikan untuk menjangkau sekitar 81,5 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Menurut surat dari Kementerian Keuangan dan Bappenas, untuk 2027 sebenarnya kami mendapat pagu indikatif Rp270,2 triliun untuk penerima manfaat 81,5 juta,” ujar Agustina.
Meski demikian, BGN menyatakan masih akan terus melakukan evaluasi dan berbagai langkah perbaikan hingga akhir tahun 2026 guna memastikan pelaksanaan program berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.















