PEMALANG – Kelesuan aktivitas ekonomi di Pasar Pagi Pemalang dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya dirasakan para pedagang, tetapi juga pelaku usaha jasa yang menggantungkan pendapatan dari ramainya pengunjung pasar, seperti pengelola toilet umum.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Memasuki musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), banyak masyarakat memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pendidikan anak. Di sisi lain, berkurangnya aktivitas sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pemalang juga disebut turut memengaruhi mobilitas masyarakat di sekitar kawasan pasar.
Willy, salah seorang penjaga toilet umum di Pasar Pagi Pemalang, mengaku pendapatannya mengalami penurunan dibandingkan hari-hari biasa.
“Biasanya pendapatan harian saya bisa mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000. Sekarang dapat Rp270.000 saja sudah bersyukur,” ujarnya saat ditemui, Minggu (5/7).
Menurut Willy, berkurangnya jumlah pengunjung membuat aktivitas ekonomi di sekitar pasar ikut melambat. Ia menilai banyak masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uangnya karena harus memenuhi kebutuhan lain yang lebih mendesak.
“Pedagang maupun pembeli sekarang sama-sama lebih hemat. Pengunjung yang datang ke pasar juga terasa berkurang dibanding biasanya,” katanya.
Kondisi tersebut turut dirasakan pelaku usaha mikro lainnya yang bergantung pada tingginya mobilitas masyarakat di kawasan pasar, seperti buruh gendong, pedagang makanan dan minuman, hingga petugas kebersihan toilet umum.
Para pelaku usaha berharap kondisi ini hanya bersifat sementara dan aktivitas ekonomi di pasar tradisional dapat kembali meningkat setelah masa PPDB berakhir serta mobilitas masyarakat kembali normal.
Mereka juga berharap adanya langkah-langkah yang dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat sehingga perputaran ekonomi di pasar tradisional kembali bergairah dan mampu menopang keberlangsungan usaha mikro yang menjadi bagian penting dari perekonomian daerah.















