PEMALANG – Aktivitas perdagangan di Pasar Bojongbata, Kabupaten Pemalang, tampak lesu pada Minggu (5/7). Lorong-lorong pasar yang biasanya dipenuhi pembeli terlihat lengang, sementara banyak pedagang hanya duduk menunggu datangnya pelanggan.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Kondisi tersebut bukan sekadar terjadi sesaat, melainkan menjadi fenomena musiman yang hampir setiap tahun dirasakan para pelaku usaha kecil. Tahun ini, para pedagang menilai kelesuan pasar semakin terasa karena dipengaruhi dua faktor yang terjadi secara bersamaan.
Faktor pertama adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Banyak orang tua mengalokasikan sebagian besar anggaran rumah tangga untuk biaya pendidikan anak, mulai dari daftar ulang, pembelian seragam, hingga perlengkapan sekolah.
“Boro-boro mau beli baju atau perabotan baru. Uang yang ada sudah habis buat bayar daftar ulang sekolah anak dan beli seragam. Harus pintar-pintar menghemat pengeluaran,” ujar Lastri (40), seorang ibu rumah tangga yang berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Bojongbata, Minggu (5/7).
Selain berkurangnya daya beli masyarakat, para pedagang juga merasakan dampak tradisi budaya yang masih dipegang sebagian warga. Berdasarkan kalender Jawa, masyarakat saat ini memasuki Bulan Suro yang secara turun-temurun dipercaya kurang baik untuk menggelar hajatan besar, seperti pernikahan, khitanan, maupun pindah rumah.
Akibatnya, permintaan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan acara hajatan, seperti bahan sembako, kain, suvenir, hingga perlengkapan rumah tangga, mengalami penurunan.
Salah seorang pedagang sembako, Dion, mengaku omzet usahanya turun cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Kalau Bulan Suro memang biasanya orang Jawa tidak mengadakan hajatan atau pindahan rumah. Ditambah sekarang musim anak masuk sekolah, jadi omzet saya turun dibandingkan bulan-bulan biasa karena pembeli memang sepi,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, sebagian pedagang mulai menerapkan berbagai strategi agar tetap bertahan. Selain melayani pembeli di pasar, mereka mencoba menjajakan dagangan secara langsung ke permukiman warga serta memanfaatkan pemasaran secara daring (online) untuk memperluas jangkauan konsumen.















