PEMALANG – Suasana hiruk-pikuk tawar-menawar yang biasanya mewakili geliat pagi di Pasar Bojongbata, Pemalang, kini berubah menjadi keluhan para ibu rumah tangga. Deretan lapak pedagang ikan tampak lebih lengang dari biasanya.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Bukan tanpa sebab, hantaman gelombang tinggi di perairan utara Jawa dalam sepekan terakhir telah memaksa mayoritas nelayan Pemalang untuk gantung jaring dan memicu lonjakan harga ikan laut yang cukup signifikan.
Berdasarkan pantauan langsung di Pasar Bojongbata, minimnya pasokan dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lokal membuat stok ikan segar menipis hingga memicu fenomena antrean pembeli.
Untuk komoditas favorit seperti ikan kakap merah, yang biasanya dibanderol pada angka Rp40.000 per kilogram, kini meroket menjadi Rp45.000 per kilogram. Kenaikan paling drastis terjadi pada komoditas cumi-cumi. Untuk cumi ukuran sedang, pedagang mematok harga Rp40.000 per kilogram, sementara cumi berukuran besar menembus angka fantastis hingga Rp60.000 per kilogram. Bahkan, untuk jenis kerang, stoknya sama sekali kosong akibat nelayan tak berani mencari tangkapan ke tengah laut.
Salah satu pedagang ikan di Pasar Bojongbata Casmi mengaku omzet penjualannya anjlok akibat sepinya pembeli yang keberatan dengan harga tinggi.
“Mau bagaimana lagi, dari pemasoknya memang sudah mahal karena barangnya langka,” ujarnya,Kamis (2/7 ).
Ia menambahkan, para nelayan di kawasan pesisir Pemalang tidak berani mengambil risiko melaut demi keselamatan akibat tingginya ombak dan angin kencang.
Hingga kondisi cuaca dan gelombang laut kembali normal, masyarakat Pemalang dan sekitarnya harus lebih cermat mengatur anggaran dapur.















