“Semua kegiatan ini dilakukan secara gotong-royong penuh kegembiraan sebagai wujud rasa syukur warga menghadapi bulan penuh ampunan dan kepedulian terhadap sesama,” kata Wina.
Nampak sebelum prosesi Kuramasan ini, warga adat memanjatkan niat dan doa yang dipimpin oleh pemimpin adat lalu dengan tanpa harus membuka pakaian mereka turun ke Sungai Cipandak. Setelah acara selesai biasanya ada kegiatan makan bersama atau istilah mereka mayor di tepi sungai.
Disebutkan Wina, dari kearifan lokal yang dia temui di Kampung Adat Miduana, pihaknya melihat bahwa dalam tradisi Kuramasan ini banyak hal yang sangat menarik. Diantaranya soal kesiapan mental dan spiritual warga menyambut dan menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan. Bagi warga adat Miduana bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat sakral dan agung. Bulan yang tepat untuk melakukan pembersihan diri lahir batin agar ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa semakin meningkat.
“Dari tradisi mandi Kuramasan ini saja kita belajar tentang pentingnya membersihkan diri lahir batin, memulai sesuatu dengan niat yang baik dan persiapan yang paripurna, selalu memelihara kekompakan, serta peduli sesama. Sehingga pada saat saum Ramadhan dilakukan bantin sudah bersih, mental sudah siap semata-mata hanya untuk memfokuskan kepada ibadah,” jelas Wina.
Kegiatan seni budaya dan tradisi warga Kampung Adat Miduana di Desa Balegede Kecamatan Naringgul Cianjur Kabupaten Cianjur Jawa Barat kini semakin dikenal publik termasuk meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Menyusul pendampingan kegiatan seni budaya yang dilakukan Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia atau Lokatmala Foundation dalam beberapa bulan terakhir.















