PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
PENERIMAAN MURID BARU
BOARDING SCHOOL
AL-MASKUN
YAYASAN MIFTAHUL HUDA
Pendidikan terpadu berbasis Islam untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak dan mandiri.
JENJANG PENDIDIKAN
🎓 MI
📚 SMP
🏫 SMK
🕌 PESANTREN
KEUNGGULAN
✔ Pendidikan Formal & Pesantren
✔ Pembinaan Akhlak & Karakter
✔ Lingkungan Islami
✔ Membentuk Kemandirian Santri
DaerahJawa TengahKab. PemalangTransportasi

Angkutan Kota Pemalang Mati Suri, Sopir Keluhkan Minimnya Pendapatan

503
×

Angkutan Kota Pemalang Mati Suri, Sopir Keluhkan Minimnya Pendapatan

Sebarkan artikel ini
Sopir angkutan Kota Pemalang keluhkan minimnya pendapatan. Poto: Ragil

PEMALANG – Nasib angkutan kota (angkot) berwarna biru yang dikenal masyarakat Pemalang dengan sebutan Koperanda (Koperasi Angkutan Daerah) kini semakin memprihatinkan. Moda transportasi yang telah beroperasi sejak 1989 tersebut mengalami penurunan jumlah penumpang secara signifikan dan kini seolah berada dalam kondisi mati suri.

| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.

Penurunan penumpang mulai terasa sejak pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, para pelajar yang selama ini menjadi pelanggan utama angkot harus menjalani pembelajaran jarak jauh selama hampir dua tahun, sehingga kebutuhan transportasi menuju sekolah menurun drastis.

Setelah pandemi berlalu, kondisi angkot belum juga membaik. Para sopir kini harus menghadapi persaingan dengan layanan transportasi berbasis aplikasi atau ojek online (ojol), baik roda dua maupun roda empat, yang semakin diminati masyarakat.

Salah seorang sopir angkot trayek Sirandu–Petarukan, Parikhin, mengaku kini jarang menarik angkot karena minimnya penumpang.

“Ini saya beberapa hari baru narik, karena sepinya penumpang,” ujarnya saat ditemui di pangkalan angkot, Senin (1/6).

Menurut pria berusia 50 tahun itu, memperoleh penghasilan bersih setelah membayar setoran dan biaya bahan bakar kini sangat sulit. Bahkan untuk mendapatkan sisa pendapatan sebesar Rp50 ribu per hari pun sering kali tidak tercapai.

“Boro-boro bayar kernet, buat sisa sopir saja mepet,” katanya.

Persaingan Semakin Ketat

Selain dampak pandemi, para pengemudi angkot juga menghadapi perubahan pola transportasi masyarakat. Kepemilikan kendaraan pribadi yang semakin meningkat serta maraknya layanan transportasi online membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk bepergian.

Sebagai upaya membantu para pengemudi, DPC Organda Kabupaten Pemalang sebelumnya telah menyesuaikan tarif angkutan kota menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Penyesuaian tarif dilakukan dengan kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen.

Pendaftaran Jurnalis – MetroMediaNews.co

MetroMediaNews.co membuka pendaftaran jurnalis bagi Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum. 📝 Daftar sekarang »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *