Menurut dia, Kabupaten Cianjur memiliki banyak potensi sejarah yang patut untuk digali secara sungguh-sungguh dengan melibatkan berbagai elemen di masyarakat. Karena diantara peristiwa-peristiwa itu menyimpan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi termasuk kecagarbudayaan.
Lokatmala Foundation, kata Wina, mengapresiasi kebijakan Bupati H. Herman Suherman yang telah memberikan ruang yang luas bagi upaya pelestarian cagar budaya. Termasuk menetapkan beberapa cagar budaya serta melakukan pendataan menyeluruh terkait objek yang diduga cagar budaya (ODCB) dan menindaklanjutinya menjadi Cagar Budaya (CB).
“Atas keseriusan itu maka kami menobatkan Bapak H. Herman Suherman sebagai Bapak Pelestari Cagar Budaya di Kabupaten Cianjur,” tegas Wina disambut riuh hadirin.
Pejuang Kemanusiaan
Menurut Hendi Jo, Harun Kabir menolak segala tindakan kejam dan penyerangan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata. Apalagi wanita dan anak-anak. Di tengah revolusi, dia justru menolong orang Indo dan Eropa yang membutuhkan pertolongan. Ini teladan yang menurutnya langka dari seorang komandan gerilya saat itu.

“Harun Kabir selalu berkata, kalau kita tidak manusiawi, lalu apa bedanya kita dengan para penjajah yang kita perangi?”
Sejarawan Nasional Prof. DR. Anhar Gonggong turut dihadirkan menjadi pembicara dalam bedah buku. Beliau menilai sosok Harun Kabir dan keluarganya memiliki ketabahan luar biasa. Soekrati, Istri dan anak-anak Harun Kabir, harus melihat dari dekat bagaimana ayahnya dieksekusi dari jarak dekat oleh tentara Belanda.
“Harun Kabir mengorbankan masa depannya. Mengorbankan hidupnya untuk keluarganya. Untuk kita semua yang hari ini bisa duduk di sini sebagai orang-orang yang merdeka,” kata Anhar.















