Krisis Iklim Dinilai Tidak Netral Gender
Sementara itu, Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas menegaskan bahwa krisis iklim tidak bersifat netral gender karena dampaknya dirasakan secara berbeda oleh perempuan.
Dalam paparannya, Linda menjelaskan bahwa tubuh perempuan sering menjadi ruang pertemuan antara resiliensi, diskriminasi, dan eksploitasi. Di tengah berbagai krisis, perempuan dituntut menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga, tetapi pada saat yang sama menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang membatasi hak-haknya.
Ia juga menyoroti bahwa suara perempuan yang menolak proyek-proyek yang dianggap mengancam ruang hidup mereka kerap diabaikan atau bahkan distigmatisasi.
Menurut Linda, minimnya keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan berkontribusi pada lahirnya kebijakan yang tidak responsif gender serta meningkatkan kerentanan perempuan pembela hak asasi manusia dan lingkungan hidup.
“Pembangunan tidak boleh mengorbankan kedaulatan perempuan atas sumber-sumber kehidupan. Keadilan ekologis dan keadilan gender harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kebijakan pembangunan maupun transisi energi,” tegas Linda.
Para peserta webinar berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak hanya menjadi momentum refleksi terhadap krisis iklim, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan pembangunan yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta hak-hak masyarakat lokal.
Reporter: Firdan Nubatonis















