SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
SPMB 2026/2027
SMK IT
MIFTAHUL HUDA
KEUNGGULAN
✔ Sekolah + Pesantren
✔ Bisa Mondok / Pulang
✔ Pembinaan Karakter Islami
JURUSAN
✔ Teknik Komputer & Jaringan
✔ Agribisnis (opsional)
✔ Siap Kerja & Kuliah
FASILITAS
✔ Lab Komputer
✔ Internet Fiber
✔ Asrama & Masjid
✔ Lingkungan Nyaman
AplikasiDaerahKomunitasKota KupangLingkunganSosial

Hari Lingkungan Hidup 2026: Aktivis Perempuan Soroti Krisis Iklim, Geothermal Flores, dan Ancaman Ruang Hidup di NTT

156
×

Hari Lingkungan Hidup 2026: Aktivis Perempuan Soroti Krisis Iklim, Geothermal Flores, dan Ancaman Ruang Hidup di NTT

Sebarkan artikel ini
Webinar Hari Lingkungan Hidup 2026. Aktivis Perempuan Soroti Krisis Iklim, Geothermal Flores, dan Ancaman Ruang Hidup di NTT

Krisis Iklim Dinilai Tidak Netral Gender

Sementara itu, Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas menegaskan bahwa krisis iklim tidak bersifat netral gender karena dampaknya dirasakan secara berbeda oleh perempuan.

Dalam paparannya, Linda menjelaskan bahwa tubuh perempuan sering menjadi ruang pertemuan antara resiliensi, diskriminasi, dan eksploitasi. Di tengah berbagai krisis, perempuan dituntut menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga, tetapi pada saat yang sama menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang membatasi hak-haknya.

Ia juga menyoroti bahwa suara perempuan yang menolak proyek-proyek yang dianggap mengancam ruang hidup mereka kerap diabaikan atau bahkan distigmatisasi.

Menurut Linda, minimnya keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan berkontribusi pada lahirnya kebijakan yang tidak responsif gender serta meningkatkan kerentanan perempuan pembela hak asasi manusia dan lingkungan hidup.

“Pembangunan tidak boleh mengorbankan kedaulatan perempuan atas sumber-sumber kehidupan. Keadilan ekologis dan keadilan gender harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kebijakan pembangunan maupun transisi energi,” tegas Linda.

Para peserta webinar berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak hanya menjadi momentum refleksi terhadap krisis iklim, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan pembangunan yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta hak-hak masyarakat lokal.

Reporter: Firdan Nubatonis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *