“Berbagai proyek tersebut berpotensi mengancam ruang hidup perempuan karena berlangsung tanpa pelibatan masyarakat secara bermakna dan partisipatif,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai semakin berat karena masyarakat Flores Timur masih berupaya pulih dari dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dalam situasi tersebut, perempuan dituntut menjaga ketersediaan pangan, memenuhi kebutuhan air, sekaligus mempertahankan keberlangsungan kehidupan keluarga dan komunitas.
WALHI NTT: Pembangunan Ekstraktif Perparah Kerentanan
Pembicara dari WALHI NTT, Horiana Yolanda, menegaskan bahwa kerentanan NTT terhadap krisis iklim diperparah oleh ekspansi pembangunan yang bersifat ekstraktif.
Menurutnya, karakter geografis NTT yang berada di kawasan Ring of Fire, terdiri dari pulau-pulau kecil, memiliki curah hujan rendah, serta bentang alam karst dan savana menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap berbagai bencana ekologis.
“Ancaman kekeringan, banjir, tanah longsor, hingga krisis air terus meningkat. Namun di tengah kondisi itu, proyek-proyek pembangunan berskala besar terus diperluas atas nama kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi,” kata Horiana.
Ia menyoroti berbagai proyek seperti pembangunan infrastruktur, pariwisata berbasis investasi, perkebunan monokultur, pertambangan, panas bumi, hingga industri tambak garam yang dinilai semakin menekan ruang hidup masyarakat.
Menurutnya, pembangunan ekstraktif tidak hanya gagal menjawab akar persoalan krisis iklim, tetapi juga memperparah kerusakan ekologis, mempersempit akses masyarakat terhadap tanah dan air, serta meningkatkan kerentanan kelompok yang selama ini berada di garis depan krisis, terutama perempuan.















