“Sekitar 80 persen masyarakat di sini hidup dari berjualan. Aktivitas itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi sumber penghasilan utama keluarga,” ujarnya.
| Dukung kami melalui layanan Berita Promosi, Advertorial, dan Publikasi Usaha. Klik di sini.
Akibat kehilangan tempat usaha, banyak warga kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau tempat mencari nafkah sudah dibongkar, masyarakat mau memperoleh pemasukan dari mana lagi? Kondisi ekonomi warga sekarang sangat berat,” tambahnya.
Ia juga kembali mempertanyakan realisasi janji relokasi yang sebelumnya disampaikan Bupati Kupang Yosef Lede. Menurut Melkianus, pemerintah sempat menjanjikan penyediaan lahan baru sebagai lokasi usaha bagi para pedagang yang terdampak penataan kawasan.
Namun hingga pembongkaran selesai dilakukan, lokasi relokasi yang dijanjikan tersebut belum pernah diperlihatkan kepada masyarakat.
“Pemerintah pernah menyampaikan akan menyiapkan lahan baru sebagai solusi. Tetapi sampai lapak dibongkar, masyarakat belum mengetahui di mana lokasi yang dimaksud,” katanya.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Kupang segera memberikan kepastian terkait relokasi dan langkah pemulihan ekonomi bagi warga yang terdampak.
“Kami berharap pemerintah segera mengambil kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil. Jangan sampai warga kehilangan mata pencaharian tanpa solusi yang jelas. Relokasi dan kepastian tempat usaha harus segera direalisasikan,” pungkasnya.
Penulis: Firdan Nubatonis
Mari bersama menebar kepedulian melalui program sosial, budaya, dan kemasyarakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam bentuk dukungan maupun kerja sama.















